Monday, June 20, 2011

Spiritualitas dalam Perusahaan

Belakangan ini, concern perusahaan-perusahaan besar terhadap aspek etical ini telah berkembang lebih jauh ke semacam ”spritualisasi” manajemen. Perkembangan baru tersebut telah mendorong perusahaan–perusahaan besar untuk meningkatkan spiritualitas para pemimpin dan karyawannya. Hal ini terjadi bukan semata-mata karena munculnya kecenderungan baru di negara-negara maju pada spiritualitas, melainkan juga karena adanya kaitan yang amat erat antara spiritulitas dan keberhasilan bisnis.

Dr. Gay Hendricks dan Dr. Kate Ludeman dalam buku Corporate Mystic secara lugas menyatakan bahwa dalam era pasar global, akan ditemukan orang-orang suci, mistikus, atau sufi di perusahaan-perusahaan besar atau organisasi-organisasi modern, bukan di wihara, kuil, gereja atau masjid.

Kenyataannya, setelah tak kurang dari seribu jam wawancara dengan ratusan pengusaha dan eksekutif perusahaan-perusahaan sukses di AS, kedua penulis itu mendapati bahwa para pebisnis itu memiliki sifat-sifat yang biasanya dimiliki oleh para mistikus.

Mereka menjalani hidup dari suatu basis spiritual, dan terus memelihara hubungan mereka dengan sifat spiritual diri mereka, orang lain, dan dunia disekeliling mereka. Mereka terlibat dalam suatu bisnis dengan hati dan jiwa mereka sebagaimana dengan dompet mereka. Sejalan dengan itu, mereka berada dalam bisnis juga untuk mendukung hati dan jiwa orang-orang yang bekerja bersama mereka. Berikut ini adalah ciri-ciri para Mistikus Korporat, menurut Hendricks dan Ludeman :

1. Kejujuran Total

Rahasia pertama kesuksesan bisnis, menurut para Mistikus Korporat, adalah mengatakan hanya yang benar dan mengatakannya dengan konsistensi total. Bagi mereka, integritas bukanlah semata-mata gagasan yang mulia, ia adalah alat bagi kesuksesan personal dan korporat. Mereka juga amat jujur kepada diri mereka sendiri, betapapun kadang-kadang kebenaran tersebut menyakitkan.

2. Fairness

Para Mistikus Korporat melakukan apa yang mereka katakan dan tidak mengatakan apa tidak mereka lakukan. Diantara keunggulan para Mistikus Korporat adalah kemampuan mereka untuk bertanya, ”Apakah hal ini fair bagi semua pihak?” meskipun dalam situasi pressure yang amat besar.

3. Pengembangan tentang Diri Sendiri

Para Mistikus Korporat amat concern terhadap pentingnya belajar tentang diri mereka sendiri. Mereka mengenali bahwa pikiran, tubuh dan ruh adalah alat-alat yang dengannya kita melakukan tindakan. Oleh karenanya, mereka memberikan perhatian besar pada upaya menguji motif-motif sejarah (masa lampau), dan perasaan-perasaan mereka.

4. Fokus pada Kontribusi

Para pengusaha sukses sering digambarkan sebagai orang yang serakah. Sejatinya tidaklah demikian, mereka justru amat concern pada kesejahteraan dan empowerment orang lain. Kontribusi mereka terhadap orang lain selalu berada di latar depan niat-niat mereka.

5. Spiritualitas (Non-dogmatik)

Kesemua karakteristuik para Mistikus Korporat itu pada dasarnya adalah dasar-dasar spiritualitas universal. Lebih dekat dari itu, sebagai spiritualis, mereka memiliki kelebihan untuk melihat bahwa dibalik hal-hal yang partikular terdapat kesalinghubungan universal yang mengikat segala sesuatu.

6. Mencapai Lebih banyak hasil dengan Lebih Sedikit Upaya

Inilah salah satu kredo dan gaya bekerja para Mistikus Korporat. Mereka belajar untuk memusatkan perhatian pada masa sekarang. Hanya jika kita berada pada masa sekarang—bukannya terjebak dalam penyesalan terhadap pada masa lampau dan kekhawatiran tentang masa depan—waktu bisa ditaklukan. Ini karena memang hanya masa sekaranglah yang bisa dikelola.

7. Membangkitkan yang terbaik dalam Diri Mereka dan Orang lain

Segenap tradisi mistik berbicara tentang ruang yang jernih dipusat diri kita, apakah itu disebut jiwa, ruh atau esensi. Inilah yang mencerminkan inti dari diri kita. Para Mistikus Korporat mengetahui cara untuk saling memelihara fokus pada esensi diri mereka ini, dan juga pada diri orang lain, juga cara membangkitkannya.

8. Keterbukaan terhadap Perubahan

Para Mistikus Korporat memiliki kesenangan terhadap perubahan hingga ke tulang sumsum mereka. Mereka tahu bahwa segala sesuatu terus berubah. Dengan demikian, mereka mampu melepaskan kecenderungan untuk merasa benar karena sikap seperti ini sering menghalangi kita untuk bisa terus menerus beradaptasi terhadap perubahan. Sebaliknya para Mistikus Korporat terus belajar mengenai cara mengalir bersama perubahan dan bahkan berkembang di atas perubahan tersebut. Para nonmistikus biasanya mengalami mabuk laut di tengah perubahan karena mereka menipu diri dengan menganggap masih didaratan yang kering.

9. Cita-Rasa Humor yang Tinggi

Para Mistikus Korporat banyak tertawa. Mereka mudah melihat kekonyolan hidup hewan yang bernama manusia ini. Mereka pun cepat memasukkan diri mereka ke dalam humor-humor yang mereka buat karena mereka menyadari kesakralan dan terkadang absurditas hidup ini.

10. Visi Jauh ke Depan dan Fokus yang Cermat

Para Mistikus Korporat memiliki bakat untuk mengajak orang memiliki mimpi-mimpi besar. Mereka bisa berdiri pada masa depan dan menggambarkan peta terperinci tentang cara mencapainya.

11. Disiplin-Diri yang Ketat

Para Mistikus Korporat amat berdisiplin. Akan tetapi, disiplin mereka bersumber dari gairah. Pada umumnya, mereka tak bertumpu pada disiplin otoriter yang didorong oleh rasa takut. Mereka memotivasi diri mereka melalui sense of purpose yang jelas. Model disiplin seperti ini menjadikan mereka fleksibel dan mudah menyesuaikan diri.

12. Keseimbangan

Para Mistikus Korporat selalu mencari kesimbangan hidup mereka dalam sedikitnya empat bidang kehidupan : keintiman (perkawinan, keluarga dan persahabatan), pekerjaan, spiritualitas, dan masyarakat (termasuk kehidupan sosial dan politik).

Melihat 12 karakteristik para Mistikus Korporat ini, tak sulit bagi kita untuk melihat kesesuaiannya dengan : Pertama, ciri-ciri para mistikus yang sebenarnya. Selain kejujuran dan fairness, kita lihat para mistikus memang menekankan pada pentingnya pengetahuan diri. Mereka juga memiliki pemahaman bahkan terus menerus mengadili motif-motif diri sendiri. Para mistikus rela berkorban bagi kepentingan orang lain dan mengedepankan sifat nrimo secara aktif terhadap segala perubahan baik atau buruk.

Kedua, tuntutan akan sifat-sifat pemimpin, eksekutif, atau pengusaha sukses pada era informasi dan globalisai seperti sekarang ini. Sebagaimana diramalkan banyak ahli, masa depan lingkungan usaha memiliki beberapa sifat utama sebagai berikut : perubahan yang amat cepat, makin menipisnya batas-batas antar negara, makin penting dan menentukannya peran daya manusia, makin powerful-nya knowledge dan informasi, serta makin canggihnya teknologi. Untuk menghadapi tantangan seperti ini, dari setiap pemimpin, eksekutif, manajer, ataupun pengusaha wiraswasta dituntut untuk menanamkan gaya manajemen yang visioner, terbuka, dan mementingkan concern terhadap kesejahteraan sesama koleganya.

Kesemuanya ini hanya memperkuat kesimpulan yang bisa kita tarik : tidak perlu ada konflik antara cara berbisnis yang etis dengan kegiatan keduniawian kita ini. Dengan kata lain, kita bisa menjadi pengusaha, eksekutif, manajer, ataupun karyawan sebuah perusahaan bisnis yang sukses dan, pada saat bersamaan, kita bisa hidup sejahtera secara spiritual.

Tidak hanya bisa, kini tampaknya kita mesti mengatakan : harus! Hanya dengan demikian kita bisa mengembangkan hal yang belakangan ini disebut good corporate govovernance yang diharapkan tidak saja dapat mengatasi problem kronis dunia bisnis dan ekonomi kita secara keseluruhan, tapi juga mendorong kita untuk melangkah maju ditengah jalan menuju cita-cita untuk melahirkan manusa-manusia Indonesia yang seutuhnya.



Disadur dari dari buku ”The Corporate Mystic : A Guidebook for Visionaries with Their Feet on the Ground” karya Gay Hendricks dan Kate Ludeman, pakar dan konsultan berbagai perusahaan besar di AS.

Saturday, August 14, 2010

Kisah Bocah Misterius

Di bulan Ramadhan yang suci, saya manfaatkan untuk berintrospeksi diri dan bermuhasabah. Seberapa jauh perjalanan diri ini dan sudah sampai mana kedewasaan, derajat keimanan dan ketakwaan kita.

Pada saat merenung ini, teringat suatu kisah yang pernah diemailkan seorang kawan. Suatu kisah yang membuat saya berpikir dan merenungi lagi hakikat bulan Ramadhan dan keberadaan saya di lingkungan secara umum.

*.............................*

Bocah itu menjadi pembicaraan di kampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.

Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.

Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa!

Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.

Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan.

Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.

Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.

Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar.

“Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.

Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah.

Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.

“Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah
Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya.
Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

“Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..”

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.

“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus?

Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?”

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela.

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.

“Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.

Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…!

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?

Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?

Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?

Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak….”

Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.

Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!

Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.

Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi.

Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisadilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.

Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!

Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main.

Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.

Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.

Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.

Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.

Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.

Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Thursday, June 10, 2010

Kehabisan Waktu



Banyak diantara kita termasuk saya, sulit untuk menyempatkan diri menulis secara rutin dan tepat waktu. Kadang-kadang sudah diprogram menulis untuk seminggu sekali, tapi nyatanya lebih dari itu kadang-kadang malah berminggu-minggu.

Biasanya yang menyebabkan kita sulit untuk menulis secara disiplin adalah merasa kehabisan ide menulis, pikiran tiba-tiba mandek hingga timbul rasa malas dan kita pun putuskan untuk melupakan dulu kegiatan menulis.

Tetapi mungkin juga kita terlalu sibuk dan kewalahan dengan berbagai kegiatan, baik yang penting maupun yang tidak penting bahkan sepele yang menyebabkan kita kehabisan energi dan waktu pada saat mau menulis.

Bagi teman-teman yang kebetulan menjalani pekerjaan sebagai manager. Berikut ini ada email yang menarik dari teman saya Mbak Fitri, yang saya posting lagi disini.

Bill Oncken di “ Harvard Business Review “ [1974] menulis sebuah artikel klasik yang sangat menarik dengan judul “ Mengelola Manajemen Waktu: Monyet Siapa ini? ” Dalam artikel tersebut Oncken menjabarkan bahwa ada tiga jenis manajemen waktu, yakni:


1. Waktu yang dipaksakan bos – digunakan untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitas yang bos inginkan dan si manajer tidak bisa mengacuhkan tanpa beresiko mendapatkan hukuman (langsung atau tidak).
2. Waktu yang dipaksakan sistem – digunakan untuk mengerjakan tuntutan-tuntutan administratif dan pekerjaan dari rekan kerja. Mengacuhkan permintaan ini bisa beresiko mendapatkan hukuman/penalti (langsung atau tidak).
3. Waktu yang dipaksakan sendiri – digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang kita putuskan sendiri. Di sini tidak ada penalti.


Dimana monyetnya?

Suatu ketika, misalnya, Anda sedang tergesa-gesa berjalan di lorong kantor ketika salah seorang staf Anda mendekati dan menyapa, “Selamat pagi Pak. Boleh saya bicara sebentar? Kita ada masalah nih, Pak”. Karena Anda perlu mengetahui masalah subordinate Anda, maka Anda pun berhenti dan mendengarkan staf Anda menjelaskan masalahnya secara rinci. Anda terjebak di tengah-tengahnya. Karena pemecahan masalah itu memang bidang Anda, tak terasa waktu pun berlalu. Ketika akhirnya Anda melirik jam tangan, obrolan yang tampaknya hanya tiga menit itu ternyata sudah memakan waktu tiga puluh menit.

Karena hanya sekilas, Anda memutuskan yang penting tahu dulu masalahnya meski belum cukup tahu untuk mengambil keputusannya. Maka Anda pun mengatakan, “Ini masalah penting, tetapi saya belum ada waktu membahasnya. Biar saya pikirkan dulu, nanti saya beri kabar.” Anda pun berpisah. Diskusi tersebut membuat Anda terlambat sampai ke tempat tujuan.

Monyet pertama

Sebelum Anda berjumpa di lorong itu, sesungguhnya monyetnya ada di punggung staf Anda. Ketika Anda berdua membicarakannya, masalahnya menjadi pertimbangan bersama, maka monyet pun memijak punggung Anda berdua. Namun saat Anda mengatakan, “Biar saya pikirkan dulu; nanti saya beri kabar,” beban di punggung Anda menjadi berlipat sementara staf Anda pergi dengan beban dua puluh kilogram lebih ringan. Kenapa begitu? Sebab monyetnya sudah sepenuhnya pindah ke punggung Anda.”

Mari kita berandai-andai. Taruh kata masalah yang dipertimbangkan itu adalah bagian dari tugas staf Anda tadi dan, taruh kata lagi, sesungguhnya ia mampu betul memberikan usulan-usulan solusi bagi masalah yang dibicarakannya itu. Maka, ketika Anda membiarkan monyetnya pindah ke punggung Anda, itu sama saja dengan Anda secara sukarela mengerjakan dua hal yang semestinya dikerjakan oleh staf Anda tadi, yakni:

1. Menerima tanggung jawab atas masalah milik staf Anda, dan
2. Menjanjikan laporan perkembangan kepada staf tersebut

Rumusannya, “ Untuk setiap monyet, selalu ada dua pihak yang terlibat: Yang menyelesaikan dan yang mengawasinya .”

Dalam kasus di atas, tampak bahwa Anda yang berperan sebagai bawahan, sementara bawahan Anda justru berperan sebagai pengawas. Keesokan harinya staf tersebut datang beberapa kali ke ruangan Anda dan mengatakan, “Apa kabar Pak? Bagaimana hasilnya?” Kalau Anda belum memecahkan persoalannya secara memuaskan baginya, bisa-bisa ia akan menekan Anda untuk mengerjakan apa yang sesungguhnya adalah pekerjaannya, dan bukan pekerjaan Anda.


Monyet kedua

Anda menerima memo dari Boni, salah seorang staf Anda, yang intinya berbunyi, “Pak, kita kurang didukung oleh bagian Gudang dalam proyek X. Bisakah Bapak bicara dengan manajer mereka?” Dan, tentunya Anda mengiyakan. Semenjak itu Boni sudah dua kali menindak-lanjuti persoalannya dengan pertanyaan, “Bagaimana soal proyek X nya Pak? Bapak sudah bicara belum dengan bagian Gudang? Dua kali pula Anda dengan rasa bersalah menjawab, “Belum sih, tetapi jangan kuatir, pasti saya bicarakan”.

Monyet ketiga

Kali ini datang dari Mimi. Dengan cerdik ia menyanjung Anda terlebih dulu sebelum akhirnya meminta tolong, sebab Anda punya pengetahuan yang mendalam tentang organisasi dan keunikan teknis dari masalah yang dihadapinya ketimbang dirinya.


Monyet keempat

Satu lagi monyet yang Anda janjikan adalah membuat uraian tugas buat Santi. Ia staf yang baru dipindahkan dari departemen lain untuk mengisi posisi yang baru saja diciptakan dalam departemen Anda. Anda belum sempat menentukan secara spesifik apa saja tugas jabatan baru itu. Jadi, ketika ia bertanya apa yang diharapkan darinya, Anda berjanji untuk menuliskan uraian tugas untuk mengklarifikasikan tanggung-jawabnya.


Monyet kelima

Putera Anda pulang dari sekolah dan berkata, ”Ayah! Ibu! Aku diterima jadi anggota tim basket yunior!”

Anda menyahut, “Woww…keren..! Ayah dan Ibu bangga, nak!” Lalu ia berkata, “Tapi Ayah…Ibu…aku mau diantar-jemput ke tempat latihan setiap hari Selasa, Kamis, dan Jumat sepulang sekolah.” Nah, satu monyet dilemparkan lagi. Lalu siapakah yang akan mendapatkan monyet itu? Sudah pasti Anda dan isteri Anda. Yang mulanya kabar gembira sekarang menjadi monyet, bukan?

Akan lebih parah lagi jika monyetnya segera beranak pinak! Isteri Anda berkata pada putera Anda, “Ibu bisa mengantarmu Selasa dan sekali-sekali Jumat, tetapi Kamis benar-benar tidak mungkin. Siapa lagi teman satu timmu? Mungkin Ibu bisa mengatur antar-jemput bersama.”

Setelah putera Anda menceritakan siapa saja teman satu timnya, isteri Anda mengatakan, “Akan segera Ibu atur, sayang. Nanti Ibu beritahu siapa yang akan mengantar-jemputmu.” Tanpa perduli samasekali, putera Anda pun lari ke arah TV dengan gembiranya, “Terima kasih Bu. I love you!”.

Pastilah putera Anda terlalu kecil untuk bisa mengemudi, tetapi tentunya ia bisa mengupayakan alternatif lain untuk transportasinya dan dalam prosesnya ia belajar memikul tanggung jawab.

Lihatlah, betapa mudahnya Anda mengambil monyet-monyet orang lain dalam segala bidang kehidupan, padahal mestinya itu tidak perlu. Lalu, dalam prosesnya, Anda telantarkan monyet Anda sendiri dan membuat orang lain tergantung kepada Anda serta mencampakkan peluang mereka untuk belajar memecahkan masalah mereka sendiri.

Datanglah monyet keenam, ketujuh, kedelapan….. dari keponakan, sepupu, mertua, ipar, tetangga, adik, aa’, teteh…..dst

Di mana-mana monyet

Di sekeling Anda monyet, monyet dan monyet! Anda bahkan kini mendapatkan beberapa “monyet-monyet lemparan!” Monyet-monyet ini diantaranya dibuat oleh Tenny, yang gaya kerja serta kepribadiannya kadang menimbulkan masalah bagi orang-orang di bagian lain organisasi Anda. Maka yang lain pun membawakan masalahnya kepada Anda, yang pasti Anda jawab dengan: “Biar saya pelajari; nanti saya kabari.”

Kini Anda dapat melihat jelas, diantara monyet-monyet yang berkecamuk di benak Anda itu, kebanyakan justru monyet milik staf Anda. Artinya, staf Andalah yang seharusnya menangani dan bukan Anda. Meskipun demikian, ada juga monyet kepunyaan Anda sendiri, yaitu, bagian dari uraian tugas Anda. Yang pasti, kebanyakan monyet-monyet di kantor Anda itu bukan seluruhnya monyet Anda.

Tidak lama kemudian beban Andapun sudah penuh (oleh tugas dari bos Anda maupun orang lain), tetapi monyetnya terus saja berdatangan.

Tak ayal lagi, maka Anda pun mulai ‘meminjam’ waktu milik kehidupan pribadi Anda: berolah raga, hobi, kegiatan warga, ibadah, dan tentu saja nantinya dari keluarga Anda.

Ujung-ujungnya Anda sampai pada titik di mana tidak lagi tersedia waktu. Tetapi monyet-monyetnya terus saja berdatangan. Ketika itulah Anda mulai menunda-nunda, sementara staf Anda menunggu. Anda sama-sama tidak melakukan apa-apa terhadap monyet-monyet itu, suatu duplikasi upaya yang sangat mahal.

Penunda-nundaan Anda itu membuat Anda menjadi penghambat bagi staf Anda. Mereka lumpuh karena Anda dan menjadi penghambat bagi orang-orang di departemen lainnya. Ketika orang-orang departemen lain ini komplain, Anda berjanji untuk mempelajari masalahnya dan memberi mereka kabar. Waktu yang Anda habiskan untuk mengurus “ monyet-monyet dari samping ” ini semakin mengurangi waktu untuk menangani monyet-monyet staf Anda sendiri.

Lalu tiba-tiba bos Anda mendapat kabar ada masalah di departemen Anda. Ia menuntut lebih banyak laporan dari Anda. Kini bukan hanya “ monyet-monyet dari samping ” saja yang Anda dapatkan, tapi juga “ monyet-monyet dari atas ” dan ini harus didahulukan dari yang lain. Waktu yang Anda habiskan untuk itu semakin mengurangi waktu untuk yang lainnya. Sungguh sangat kusut. Mengingat-ingat semua kekacauan itu, Anda sadar bahwa Anda sendirilah penyebab hambatan organisasi Anda; sungguh luar biasa masalah yang Anda timbulkan.

Tentu, masalah yang lebih besar adalah ‘hilangnya peluang’; menghabiskan seluruh waktu Anda menangani monyet-monyet orang lain sementarai monyet-monyet Anda sendiri tidak tertangani. Sebagai manager, Anda sekarang bukannya me-manage , Anda malah di-manage .

“ Monyet-monyet dari atas ” adalah waktu yang dipaksakan oleh bos, seperti poin 1 dari manajemen waktu yang Bill Oncken uraikan di awal tulisan ini. “ Monyet-monyet dari samping ” adalah waktu yang dipaksakan sistem seperti poin 2 dan “ Monyet-monyet yang Anda sendiri ” dan “ Monyet-monyet yang dengan suka rela Anda ambil dari keluarga, kerabat, sahabat dan tetangga” adalah waktu yang dipaksakan sendiri seperti nomor 3.


***

Menangani monyet-monyet

Oncken memberi kesimpulan sederhana untuk menangani monyet yakni:
“ Kapan saja saya membantu Anda, maka sesungguhnya masalah Anda kini menjadi masalah saya. Begitu masalah itu menjadi milik saya, maka Anda tidak lagi punya masalah. Saya tidak bisa membantu seseorang yang tidak punya masalah. Anda boleh meminta bantuan lewat skedul waktu yang kita tentukan, dan kita putuskan bersama apa langkah selanjutnya dan siapa yang akan melakukannya ”
Untuk para manajer, inilah enam hal yang harus Anda pertimbangkan, yaitu:

1.Monyet sebaiknya disuapi atau ditembaki. Tak seorangpun senang menerima dampak dari monyet-monyet yang lapar. Monyet mesti disuapi secara berkala. Dalam metafora ini, masalah harus dibicarakan secara berkala antara manajer dan staf yang punya masalah. Kalau monyetnya bisa ditembak (masalah diselesaikan secepat mungkin), tentu saja tidak diperlukan waktu lagi untuk menyuapinya.

2.Setiap monyet seharusnya punya jadwal waktu untuk suapan selanjutnya . Setelah sebuah sesi penyuapan, si manajer seyogyanya memilih waktu yang tepat untuk penyuapan selanjutnya dan punya daftar langkah-langkah yang harus diambil oleh stafnya. “Bisa kita ketemu Selasa depan jam 11.00 untuk menindaklanjuti hal ini dan membahas apa yang harus kita lakukan selanjutnya?

3.Populasi monyet seharusnya dipertahankan di bawah jumlah waktu maksimum yang dipunyai si manajer . Untuk menyuapi seekor monyet, idealnya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit dan si manajer harus mempertahankan jadwal waktu yang memungkinkan untuk dikelolanya dengan baik.

4.Monyet-monyet sebaiknya disuapi pada waktu yang telah ditentukan . Membiarkan staf membawa masalah-masalahnya sesuai dengan waktu mereka sendiri, meningkatakan kemungkinan monyet-monyet tersebut berpindah dari pundak staf ke pundak manajer. Dengan menentukan waktu terinci untuk menyelesaikan masalah, si manajer mendorong stafnya untuk mengambil keputusan terhadap masalah tersebut dan memberinya umpan balik.

5.Skedul penyuapan monyet bisa diskedul ulang, tapi jangan pernah benar-benar ditunda . Baik si manajer maupun staf boleh saja melakukan skedul ulang untuk menyuapi monyet, namun tetap harus diskedulkan ke waktu yang spesifik untuk menghindari hilangnya jejak masalah tersebut.

6.Monyet-monyet sebaiknya disuapi secara tatap muka atau lewat telpon, namun tidak lewat tulisan (surat/sms/email, dll) . Penyuapan yang dilakukan lewat tatap muka atau telpon bermanfaat untuk memastikan si monyet tetap menjadi masalah staf tersebut, kecuali jika manajer memandang perlu untuk mengambil alih masalahnya.
Ringkasnya, keterampilan mendelegasikan membantu manajer menyelesaikan masalah dengan lebih baik dan sekaligus mengembangkan keterampilan pemecahan masalah untuk staf-stafnya.

***
Sekedar pengingat, bila Anda sedang tenggelam dalam lautan pekerjaan yang mengacaukan manajemen waktu Anda, ingatlah tiga huruf ini: RHW.

Pertama, kita mulai dengan huruf H (HAPUSKAN). Kalau bisa di coret dari daftar Anda, hapus pekerjaan itu (tembaki monyet Anda).

Kedua, huruf W (WAKILKAN). Kalau Anda bisa mewakilkan/mendelegasikan pekerjaan Anda, lakukanlah, sepanjang diberikan pada orang yang tepat.

Dan, terakhir, R (REKAYASAKAN). Artinya, jadwalkan sedemikian rupa sehingga pekerjaan Anda menjadi lebih sederhana dan terukur. NLP menyebutnya sebagai chunking down (memecah-mecah menjadi lebih terkelola).

Kalau Anda sudah membaca Bakul Pertama dari serial Beras Kencur ini, tentu masih ingat metafora berikut: Bagaimana cara Anda menyantap seekor gajah? Tentu saja dengan mengunyahnya sepotong demi sepotong, bukan?

Thursday, June 3, 2010

Puisi Untuk Istriku

Cintaku……

Hari ini, genap sudah usiamu ke tiga puluh tiga tahun
Usia yang tidak lagi muda belia
Tapi juga belum pantas untuk dikatakan tua

Bagiku dirimu masih cantik seperti dulu
Saat ku mengenalmu di kota ini
Bahkan lebih menarik
Karena aku tahu.....
Wajahmu lebih bersih
Dan tubuhmu lebih padat
Hmmm.....

Sayangku.....

Aku sadar...
Sudah hampir duabelas tahun
Kita menjalin ikatan ini
Aku banyak mengecewakanmu
Belum bisa membahagiakanmu
Belum bisa menghadirkan segala impianmu
Dan impian-impian kita

Namun bagiku
Jalan masih panjang terbentang di depan
Masih banyak kesempatan yang masih bisa diperjuangkan
Masih ada waktu untuk kita
Meniti dan menata
Mahligai yang kita bangun
Untuk mewujudkan segala impian itu

Istriku .........

Mungkin aku terlalu berharap
Jika aku ingin agar kita selalu bersama
Dalam suka maupun duka
Membesarkan anak-anak kita
Dengan kasih sayang dan cinta
Untuk meraih kebahagiaan
Dunia dan Akhirat kelak

Monday, April 5, 2010

Net Forward Mind Set

Hari saya mengikuti kelas motivasi transformasi. Suatu hal yang biasa yang dilakukan di perusahaan untuk meningkatkan motivasi para karyawan agar performansi terus meningkat.
Secara umum, materi dan style sang motivator tidak terlalu istimewa. Belum terlalu greget menggetarkan mindset dan motivasi para pendengarnya. Namun ada hal (istilah)yang kelihatan baru bagi saya dan perlu saya cuplik hal yang positip agar waktu yang dikorbankan untuk pelatihan ini tidak sia-sia.
Hal yang baru itu adalah istilah Net Forward Mind Set (CMIIW). Suatu istilah yang menggambarkan rasio antara pikiran positip dan negatip dalam mindset kita. Apabila pikiran positip kita 60% dan sisanya 40% pikiran negatip maka NFMSnya 60/40 atau sama dengan 1,5 yang berarti mind set kita bisa menggerakan ke arah positip (baca kemajuan) sebesar 1,5 x lipat. Tapi kalau pikiran positip kita meningkat menjadi 80% makan NFMSnya menjadi 4 x lipat. Namun apabila pikiran negatif mendominasi misalnya 60% maka NFMSnya menjadi 2/3 atau mindset kita menggerakan ke arah negatif atau kemunduran.
Secara kalkulasi mungkin agak susah membuktikan relevansi dengan kehidupan nyata. Namun apapun teorinya, lebih baik mempunyai pikiran positip daripada pikiran negatif bukan?

Bekerja keras menuju Tuhan


Wahai Manusia Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemuiNya. (QS 84 : 6).

Satu ayat yang tak sengaja kubaca pada saat tengah malam mengingatkanku akan jati diriku selama ini. Secara tak sadar ayat ini terus terngiang di pikiranku dan merefleksikan apa yang sebenarnya ingin kucapai dalam hidup ini.

Selama ini, konsep dan realitas kehidupan ternyata hanya didominasi oleh paradigma bagaimana bekerja keras untuk dunia agar mendapatkan dunia dengan segala kenikmatannya sebanyak-banyaknya. Makin bekerja keras untuk mendapatkannya, maka makin terasa panjang jalan yang harus ditempuh.

Ibadah yang sampai saat ini dilakukan, hanyalah serpihan-serpihan kecil yang kadarnya tidak berimbang dengan apa yang dilakukan untuk dunia ini. Kadang timbul tenggelam, tergantung dari situasi yang menyelimuti hati dan pikiran. Saat dunia terasa tidak berpihak kepadaku, maka aku membutuhkan agamaku, tetapi pada saat dunia berpihak kepadaku, maka seringkali kulupa menjaga ibadahku.

Itulah mengapa, mulai saat ini kuprogram ulang seluruh agenda harianku. Harus ada breakthrough, sehingga aku bisa berprestasi juga dalam ibadahku. Jalan yang terbaik menuju Tuhanku, yang harus kulalui lebih keras dariapa yang harus kujalani untuk duniaku.

Tuesday, December 29, 2009

di Balik Pergantian Tahun

Menjelang akhir tahun, pasti ada persiapan yang dilakukan oleh sebagian orang untuk menyambutnya. Apakah itu persiapan pesta tahun baru, event dalam rangka promosi, cuci gudang, diskon akhir tahun dan sebagainya. Yang menariknya, ada bisnis yang selalu muncul di moment pergantian tahun yaitu bisnis terompet.

Bisnis terompet memang hanya muncul dan meningkat volumenya pada saat menjelang pergantian tahun. Terompet dijadikan alat untuk mengekspresikan kegembiraan seseorang dalam menyambut tahun baru. Berbagai bentuk dan ukuran terompet yang biasanya dijajakan di pinggir-pinggir jalan. Berbahan dasar kertas, harga terompet yang dijual terbilang murah dari harga 5 ribu rupiah sampai dengan 50 ribu rupiah. Dengan harga yang seperti ini, tidak heran mulai dari anak-anak kecil sampai orang-orang dewasa tidak segan untuk membeli terompet dan meniupnya untuk memeriahkan acara baik di rumah, jalanan maupun di tempat-tempat wisata dan kafe.

Dengan ramainya orang membeli terompet, pertanyaan kita sebagai pelaku atau pengamat bisnis, berapa sih omzet dan keuntungan dibalik bisnis terompet ini. Berdasarkan informasi yang kami peroleh, rata-rata pedagang terompet di pinggir jalan setiap hari rata-rata bisa menjual 20 terompet dengan omzet sekitar 150 ribu rupiah. Dengan lama penjualan sekitar 10 hari-an maka omzet total sebesar 1,5 juta rupiah dengan keuntungan bersih rata-rata 50% dari omzet atau sebesar 750 ribu rupiah. Memang kalau dilihat sepintas keuntungan yang diperoleh belum menggiurkan namun kalau dilihat dari jumlah ratusan pedagang terompet yang ada di Kota Tasikmalaya akan menjadi potensi yang cukup lumayan baik bagi para pedagang maupun produsen terompet.

Tuesday, December 22, 2009

Mengenal Sedikit Bisnis Property (Bagian 2)

Pada dasarnya bisnis property yang ada sekarang ini terbagi menjadi tiga :
1. Bisnis Jual Beli Rumah/Ruko
2. Bisnis Kavling Siap Bangun
3. Bisnis Developer

Bisnis jual beli rumah/ruko
Bisnis ini bisa dilakukan siapa saja dengan dana yang terbatas sekalipun. Salah satu teknik yang sering digunakan adalah dengan cara menggunakan bantuan jasa appraisal rumah kemudian mengajukan permohonan kredit di bank. Apabila nilai appraisal kita di bawah dari nilai appraisal bank, maka kredit pun diajukan dengan harapan ada uang lebih dari hasil pelunasan rumah yang bisa digunakan untuk modal usaha atau mencicil rumah sekian bulan ke depan. Rumah/ Ruko yang sudah dibeli, bisa dimanfaatkan untuk dikontrakan atau menjadi tempat usaha. Hasil dari uang kontrakan atau usaha tersebut kemudian digunakan untuk mencicil rumah dan seterusnya.

Apabila skema bisnis yang pertama ini dijalankan, maka terbuka lagi peluang untuk mendapatkan rumah baru. Caranya setelah sekian waktu, nilai rumah mulai meningkat maka segera jual rumah tersebut. Dengan adanya keuntungan dari nilai jual ini, maka kita bisa melakukan pembelian rumah/rukodengan nilai dan kuantitas yang lebih meningkat lagi.

Bisnis Kavling Siap Bangun (KSB)
Yang harus dilakukan dalam melakukan Bisnis Kavling Siap Bangun diantaranya meliputi :
- Survey Lokasi
- Pemilihan Lokasi
- Transaksi dgn pemilik hrs dgn notaris
- Pembuatan Site Plan
- Pengkaplingan 200 – 800 m2
- Pemasangan patok
- Transaksi dgn calon pembeli
- Pengurusan Sertifikat

Persyaratan Pemilihan Lokasi untuk KSB diantaranya :
- 3 L = lokasi – lokasi – lokasi
- Lokasi strategis, dekat kota, kampus , pasar, perkantoran dsb
- Ukuran 2000 – 5000 m2
- Bentuk siap kapling utk perumahan
- Harga relatif murah
- Tanah sudah sertifikat & tidak sengketa
- Jalan masuk ke lokasi minimal 5 meter
- Posisi rata atau di atas jalan
- Sekitarnya sudah ada rumah-rumah

Buat brosur utk menjual rumah
- Dijual
- Denah lokasi digambarkan secara jelas
- Denah kavling
- Keterangan
1. Sertifikat
2. Lokasi sangat strategis
3. Dekat kampus
4. Jalan lebar 5 m
5. Air , listrik
6. Ukuran kavlingHarga 750 rb / m2
7. Hubungi nomor telepon
Hindari :
1. Beli rumah / tanah dekat makam
2. Di bawah sutet
3. Di daerah Bencana, banjir, tanah labil
4. Sertifikat gagal di cek di notaris
5. Tanah bersengketa
6. Tanah tusuk sate

Bisnis Developer

Untuk bisnis ini akan kami jelaskan dalam edisi berikutnya. Tunggu saja.

Monday, December 14, 2009

Mengenal Sedikit Bisnis Property (Bagian 1)


Produk satu-satunya di dunia yang jarang turun harganya adalah tanah. Mengapa demikian ? Karena tanah diciptakan oleh Allah relatif tidak bertambah dan berkurang sesuai dengan ukuran luas bumi yang relatif sama dari sejak diciptakan. Dengan pertumbuhan manusia di muka bumi dari waktu ke waktu maka semakin banyak lahan atau tanah yang dibutuhkan untuk rumah, lahan pertanian, industri dan sebagainya. Oleh karena itu, tidaklah heran kenaikan harga tanah ini berlangsung terus bahkan terjadi kenaikan yang fantastis yang bisa ditimbulkan oleh kondisi perubahan lingkungan di sekitarnya misalnya adanya pembangunan komplek perkantoran, pemindahan pasar, pembuatan jalan raya dsb.

Lalu bagaimana agar tanah yang merupakan sumber daya terbatas ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan sumber penghasilan. Saya ceritakan kisah dari seorang penjual kangkung yang bernama Sukinah. Sukinah ini hidup sebatang kara, umur 40 tahunan dan belum pernah menikah. Dalam mempertahankan hidupnya, Sukinah berjualan kangkung dan sayuran lainnya di pasar dan ia tekuni hampir 10 tahun. Namun tahun ini, adalah tahun yang luar biasa bagi Sukinah karena tahun inilah ia bisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Banyak orang termasuk sesama pedagang sayuran begitu takjub dengan Sukinah yang notabene hanyalah seorang pedagang kecil, bisa mengumpulkan uang dari hasil penjualan kangkungnya yang tidak seberapa untuk menunaikan ibadah haji.

Karena penasaran salah seorang pedagang bertanya “Mbak Sukinah, selamat ya bisa menunaikan haji. Semoga menjadi haji Mabrur. Ngomong-ngomong tolong dong ceritakan kiat-kiatnya Mbak Sukinah, bisa mengumpulkan uang dari hasil jual kangkung ini sehingga bisa menunaikan ibadah haji?” Mbak Sukinah pun menjawab ”Mas, saya berniat haji ini sudah lama 10 tahun yang lalu. Kebetulan waktu itu saya mendapat warisan sebidang tanah. Akhirnya saya tanami kangkung di tanah tersebut, dan saya jual kangkungnya ke pasar. Dengan cara itu saya bisa mendapatkan uang sedikit demi sedikit untuk ditabung. Memang tidak besar sih, cuma seribu rupiah sehari. Tapi karena sudah sepuluh tahun, tabunganku akhirnya bisa besar juga, sudah mencapai kira-kira 10 jutaan rupiah. Gitu Mas”. ”....lalu sisanya darimana Mbak, biaya haji kan bisa lebih dari 30 juta ?” tanya si pedagang penasaran. “Ya, saya kan jual kangkung ditambah tanahnya sekalian, gitu aja kok repot!!”.

He..he..he..itulah kisah kecil dari seorang pedagang kecil yang tahu benar memanfaatkan tanah untuk hidup dan merealisasikan cita-citanya. Tanah yang digarap untuk menanam kangkung, 10 tahun yang lalu hanya berharga 2 atau 3 jutaan rupiah. Sepuluh tahun yang lalu Ongkos Naik Haji (ONH) berkisar sekitar 9-10 jutaan. Mbak Sukinah tahu betul, kalaupun tanah itu dijual, ia belum bisa menunaikan ibadah haji. Dan strategi Mbak Sukinah dengan memanfaatkan tanah itu untuk menanam kangkung sangat tepat. Ada dua keuntungan yang diperolehnya, yaitu yang pertama, ia mendapatkan penghasilan dari penjualan kangkung dan yang kedua, ia juga mendapat keuntungan melalu kenaikan harga tanahnya. Kombinasi dari bisnis dan kenaikan harga tanah inilah melahirkan bisnis-bisnis property seperti yang semarak akhir-akhir ini.

Sunday, December 13, 2009

Duit dan Ilmu, dua sisi yang berbeda

Suatu saat bersama istri, saya sedang membantu (sambil belajar) membuat baso untuk dijual di gerai mie kami. Seperti biasanya, ada celotehan-celotehan ringan dari saya atau istri untuk mengusir kejenuhan. Istri pun nanya “Pah, kalau di kuliahan diajari buat baso seperti ini ga?”. Pertanyaan apa nyindir nih, pikirku. “Ya nggalah, kalau di kuliahan kan ilmu-ilmu manajemen, mana ada ilmu-ilmu praktis seperti ini. Yang kaya gini mah, ga perlu belajar S-1 atau S-2, cukup belajar ke mang-mang baso saja”. Istri lalu nimpalin lagi ”Pantesan ya pah, banyak sarjana-sarjana pengangguran, jelas aja ngga diajarin nyari duit atas usaha sendiri sihh” hehehe .. bener juga. Saya teringat saat kuliah di S-1 dan S-2 dulu, tidak ada yang mengajarkan bagaimana selepas dari kuliah, kita bisa mencari penghasilan sendiri. Walaupun ada kuliah mengenai Kewirausahaan, yang diajari adalah kiat-kiat usaha dari teori atau buku-buku karangan pengusaha, bukan dari pengalaman dosen itu sendiri, yang mungkin belum pernah sama sekali menggeluti dunia usaha.

Dari perbincangan yang sederhana ini, saya berpikir begitu besar sebenarnya efek dari pendidikan terhadap perekonomian negara kita. Selama ini, sekian puluh juta mahasiswa hanya diberikan ilmu atau wawasan untuk bekerja, bukan sebagai pengusaha dalam arti yang sesungguhnya. Ilmu kewirausahaan yang diajarkan hanya 2 SKS terlalu singkat untuk menjadikan seorang mahasiswa tergerak menjadi seorang pengusaha. Seharusnya, di setiap perguruan-perguruan tinggi diajarkan ilmu atau wawasan kewirausahaan yang lebih praktis seperti halnya yang diajarkan di Entreupreuneur University (EU) yang didirikan oleh Bapak Purdi E. Chandra.

Berapa banyak lulusan-lulusan EU dalam tempo yang tidak terlalu lama (kurang dari setahun) bisa menjadi pengusaha sukses dengan omzet miliaran rupiah per bulan dan menyerap tenaga kerja puluhan bahkan ratusan orang. Mengapa lembaga yang berwenang mengenai masalah ini, tidak segera bertindak nyata dan mengadopsi sistem EU. Secara sederhana, buatlah satu semester khusus materi-materi kewirausahaan yang diajarkan oleh para pengusaha tulen. Untuk prakteknya, buat 1 semester tambahan dengan bantuan dana dan pembimbing dari kampus dan para pengusaha. Kalaupun dari para mahasiswa tersebut ada yang langsung “nyebur” ke dunia usaha dan tidak kembali lagi ke bangku kuliah, saya kira mahasiswa tersebut malahan lulus dengan predikat cum laude sebagai mahasiswa berprestasi yang bertindak nyata terhadap negara ini.

Pah..pah…langsung saya tersadar ketika istri menepuk pundakku. “Ngelamunin apa pah….ngelamunin negara ya??? Hehehe…tau aja.

Seni dalam Mengundang (Bagian 2)

Berikut ini sedikit tips dalam mengundang :
1.Buat daftar nama yang akan diundang. Pastikan nama, gelar dan alamat tidak keliru.
2.Pilihlah media undangan yang tepat apakah melalui telepon, surat, email, sms atau bertemu langsung. Penggunaan jejaring sosial melalui internet seperti facebook sekarang ini banyak peminatnya dan lebih murah. Namun dengan media yang interaktif ini tentu saja mengandung bahaya apabila kita tidak membatasi diri untuk menjelaskan terlalu banyak dari materi yang akan disampaikan nanti.
3.Jangan bercerita banyak mengenai isi acara atau materi, cukup kata-kata kunci yang akan membuat penasaran yang diundang untuk datang. Misalkan kita mengundang dalam rangka presentasi bisnis baru yang menjanjikan, cukup lah dengan kalimat misalnya "Peluang Luar Biasa, hanya hari ini saja"
4.Pastikan komitmen yang akan diundang untuk datang ke acara. Tangkap sinyal keseriusan untuk datang melalui alasan atau respon yang diundang. Apabila terdapat alasan "akan cek jadwal dahulu" atau "kalau tdk ada kesibukan" atau " saya akan coba.." dapat diperkirakan tingkat kehadirannya maksimal 25%.
5.Berikan pujian yang tulus atas kebaikan atau keistimewaan yang diundang saat berinteraksi dengan mereka.

Memang banyak teori atau pengalaman cara mengundang yang efektif dari orang lain. Tetapi yang lebih baik adalah mencoba terus dengan keyakinan dan semangat pantang menyerah. Insya Allah, akhirnya akan berhasil juga.

Thursday, December 10, 2009

Seni Dalam Mengundang (Bagian 1)


Banyak kejadian yang saya alami, dalam pertemuan atau rapat yang melibatkan pihak luar (bukan internal organisasi) dihadiri oleh separuh bahkan hanya beberapa gelintir undangan. Padahal pertemuan atau rapat tersebut berskala cukup besar dengan biaya yang cukup besar juga. Hal ini tidak hanya berlaku untuk pengundang dari perusahaan kecil tetapi juga perusahaan-perusahaan besar. Tidak hanya itu, walaupun jumlah yang datang cukup banyak tetapi rata-rata kedatangan para undangan itu tidak tepat waktu atau mulur bahkan sampai dengan 1 atau 2 jam.

Suatu saat, saya menghadiri Gathering Outlet bersama salah satu operator telekomunikasi di Indonesia. Di dalam undangan tertera acara akan dimulai pukul 10 pagi, dan saya pun bergegas agar tidak kesiangan karena pada saat itu saya ditunjuk untuk mewakili perusahaan dalam acara tersebut. Namun entah kenapa, sesampainya di lokasi acara, yang terlihat hanyalah dari jajaran panitia serta beberapa orang tamu undangan. Mau tidak mau saya menunggu dan menunggu, hingga acara dimulai 1,5 jam kemudian. Itupun jumlah undangan yang hadir hanya separuh dari tempat duduk yang tersedia .

Banyak kejadian yang sama terjadi terutama pada pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan untuk menjaring prospek seperti dalam MLM dsb. Apa letak kesalahannya sehingga pertemuan sepi dari peminat. Jawabannya adalah kesalahan dalam mengundang. Mengundang dianggap hal yang biasa dan secara subyektif hanya memperhatikan content dari undangan tetapi kurang jeli dalam melihat contex dengan yang diundang. Mengundang perlu teknik dan seni tertentu sehingga diharapkan tingkat keberhasilan undangan pun lebih tinggi.

Peringatan hari HAM sedunia, peringatan manusia sebagai insan


Setiap tanggal 10 Desember diperingati sebagai hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia. Peringatan ini lahir sejak deklarasi HAM Sedunia pada tanggal 10 Desember 1948 dimana dengan deklarasi ini hak-hak asasi manusia harus dilindungi dari tindakan kesewenang-wenangan oleh pihak manapun. Perbudakan, penindasan oleh pemerintahan yang tiran, ras diskriminasi, pelecehan dsb menjadi perhatian dari para aktivitis HAM tidak hanya bersifat regional tetapi meluas menjadi suatu gerakan internasional.

Di Indonesia, banyak sekali torehan darah yang menghiasi sejarah HAM di Indonesia diantaranya kasus Munir, Kasus Tanjung Priok, Kasus Semanggi 1 dan Semanggi 2, Trisakti, Penculikan Aktivis Mahasiswa dsb. Sejarah juga mencatat bahwa penyelesaian hukum kasus-kasus tersebut seakan timbul tenggelam dan tak pernah selesai. Wajar saja, setiap ada peringata hari HAM sedunia, para demonstran dan aktivis HAM di Indonesia tetap mengutarakan tuntutan yang sama yaitu mengusut tuntas pelanggaran HAM dari kasus-kasus di atas. Banyaknya kasus inilah juga yang membuat lembaga Amnesty Internasional menempatkan Indonesia sebagai negara pelanggar HAM diantara 80 negara lainnya di Dunia.

Di balik pemahaman hak-hak asasi baik yang dianut oleh Barat ataupun Timur (Islam), terdapat benang merah yang sama diantara keduanya yaitu hak-hak asasi adalah menempatkan manusia sebagai al insan bukan sebagai mahluk hidup biasa. Manusia diberikan panca indera sebagaimana halnya binatang tetapi juga manusia diberikan akal dan hati yang tidak dimiliki mahluk lainnya. Manusa diberikan kewenangan dan keleluasaan oleh Tuhan untuk menjadi mahluk penguasa di muka bumi ini. Dengan kondisi inilah terkadang manusia menjadi over dozis, tamak dan serakah serta saling sikut diantara sesama manusia. Dengan potensi pada diri manusia seperti inilah, penegakan HAM menjadi sesuatu yang abadi selama manusia dan dunia masih berputar. Penegakan HAM adalah menegakkan jati diri manusia sebagai Insan yang lebih mulia daripada sekedar manusia.

Tuesday, December 8, 2009

Misteri dalam Bisnis Kuliner


Berbisnis kuliner merupakan bisnis yang memerlukan kejelian dalam menangkap selera masyarakat. Tidak semua teori marketing bisa diterapkan seperti halnya Teori Marketing Mix-nya Kotler yaitu 4 P yang terdiri dari Product, Price, Promote, dan Place. Teori lainnya 7P yaitu 4 P di atas dan tambahan 3 P lainnya yaitu Process, People dan Phisycal Evidence. Secara umum, dengan teori ini dapat diimplementasikan dengan baik oleh rata-rata perusahaan besar yang telah maju.

Namun bagaimana halnya yang terjadi pada bisnis kuliner. Dengan sumber daya yang sangat terbatas agak sulit untuk mengimplementasikan bauran pemasaran secara ideal. Bisnis kuliner yang sebagian besar digerakkan oleh bisnis keluarga yang bersifat bisnis pinggir jalan dan bisnis “bakat” (bakat kubutuh – dalam bahasa sunda) secara operasional terkadang dilakukan begitu saja tanpa memperhatikan unsur pemasarannya. Dengan resiko yang memang tidak besar, para pelaku bisnis kuliner ini seakan tidak terlalu memusingkan rencana bisnisnya atau bisnis plan yang akan dijalankan. Mereka berharap dengan bergulirnya waktu produknya lambat laun akan semakin semakin laris.

Memang fenomena yang terjadi, banyak pengusaha kuliner yang berhasil bukan faktor 4 P di atas. Seperti salah satu contoh adalah penjual Tutug Oncom (T.O.) di Dadaha kota Tasikmalaya. Setiap hari tempat T.O. tersebut dipenuhi oleh pembeli dan sebelum jam 3 siang, tidak menerima lagi pembeli karena makanan yang ada Sold Out. Apa kelebihan T.O tersebut ? Kalau diperhatikan dari segi produk, nasi tutug oncom yang disajikan biasa saja. Dari segi tempat sangat terbatas, hanya tenda biasa, terdapat di pinggir sungai dan tidak terlalu strategis (tidak dilalui kendaraan umum). Dari segi harga juga tidak murah-murah amat. Apalagi promosi kelihatannya sama sekali nihil kecuali melalui mulut ke mulut ataupun pemberitaan dan ulasan seperti ini. Lalu dimana letak keberhasilan pemasarannya ?

Saya juga tidak tahu bagaimana asal usulnya sehingga penjual nasi T.O. di Dadaha Tasik ini menjadi terkenal. Apakah karena menjadi pionir penjualan nasi TO di Tasik sehingga terjadi akumulasi pelanggan dalam rentang waktu sekian lama. Ataukah karena keterbasan tempat dan produk sehingga memancing rasa penasaran. Saya tidak tahu persis penyebabnya, tapi yang pasti dalam dunia kuliner selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk menjaring pelanggan. Yang dibutuhkan adalah menangkap selera konsumen tersebut dan apalagi kalau kita mampu secara kreatif menuangkannya dalam produk atau layanan, mengapa tidak, kita juga bisa maju.

Hari Anti Korupsi Sedunia – Hari Introspeksi Diri


Tanggal 9 Desember 2009, diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Sedunia. Sejak kapan tanggal ini ditetapkan sebagai hari anti korupsi. Apabila menengok ke belakang, tepatnya pada tanggal 9 Desember 2003 di kota Merida Meksiko, 133 negara sepakat menetapkan Hari Anti Korupsi Sedunia pada Konvensi Anti Korupsi PBB. Berdasarkan kesepakatan itulah, hingga kini masyarakat Dunia termasuk Indonesia memperingatinya dengan cara yang beragam. Dan hari ini, adalah moment Gerakan Anti Korupsi yang sangat potensial di Indonesia karena bertepatan dengan kasus Bank Century yang makin memanas. Tentu saja dengan moment seperti ini, akan mengundang berbagai pihak yang akan memanfaatkan Hari Anti Korupsi Sedunia ini untuk melakukan demo besar-besaran di berbagai penjuru kota di Tanah Air.

Kalau melihat dari fenomena korupsi yang terjadi di Indonesia, saya melihat korupsi ini bagaikan kanker akut dalam tubuh yang sudah menyebar tidak hanya di kepala, jantung, atau hati tetapi sampai ke tangan dan kaki bahkan kuku sekalipun. Korupsi tidak hanya dilakukan oleh oknum-oknum di jajaran birokrasi, perusahaan negara, perusahaan swasta atau lembaga-lembaga penegak hukum tetapi sudah sampai ke aparatur pemerintah terkecil di tingkat Desa, RW atau RT atau bahkan bisa dilakukan para pedagang kecil yang mencurangi timbangan dsb.

Korupsi adalah tidak semata diukur dengan jumlah uang nominal yang dikorupsi tetapi juga oleh elemen-elemen lainnya yang bersifat kontra produktif seperti korupsi waktu, korupsi tanggungjawab dan korupsi yang bersifat non material lainnya. Banyak orang, mahasiswa atau pelajar yang demo berteriak anti korupsi di jalan-jalan tetapi banyak diantara mereka secara sadar atau tidak sadar melakukan korupsi dalam bentuk lainnya yang bersifat non material tersebut. Sesungguhnya pada saat kita berteriak kepada pemerintah atau pihak manapun dalam melawan Korupsi, pada saat yang bersamaan juga kita semestinya berteriak pada diri sendiri untuk melawan Setan Korupsi yang ada di diri kita. Mudah-mudahan masyarakat Indonesia semakin sadar bahwa melawan Korupsi pada dasarnya melawan kanker batiniah dalam diri kita sendiri. Mari kita berintrospeksi.

Berbagi oleh-oleh dari Luar Negeri


Salah satu yang menarik apabila kita atau teman kita baru pulang dari luar negeri selain oleh-olehnya adalah berbagi cerita atau pengalaman saat berkunjung ke negara tersebut. Banyak hal yang bisa diceritakan mulai dari jenis-jenis makanan, harga-harga, hotel, tempat-tempat wisata, orang-orang ataupun kejadian-kejadian menarik lainnya. Banyak hal-hal yang membuat kita takjub betapa hebatnya kehidupan di sana tetapi terkadang ada juga sedikit yang membuat kita takjub dengan negeri sendiri.

Entah mengapa, dari sekian pengalaman baik pribadi maupun orang lain yang pernah berkunjung ke Singapura, Malaysia, Australia, Amerika ataupun negara-negara Eropa, hampir rata-rata menggambarkan kehebatan negara-negara tersebut terutama dari budaya dan sikap masyarakat. Hal ini tercermin dari budaya antri, kebersihan, keteraturan dan disiplin yang tinggi. Memang miris melihat hal ini di Indonesia, negeri dengan anugerah yang sangat besar dari Tuhan berupa sumber daya alam yang melimpah, tidak disertai dengan perilaku individu dan masyarakat yang berbudaya tinggi.

Sebagai contoh adalah bagaimana masyarakat di Sydney Australia benar-benar memperhatikan lingkungannya. Pohon-pohon di sana benar-benar dijaga dan dirawat. Bahkan bentuk-bentuk rumah di sana, banyak yang tidak simetris atau persegi sempurna karena mengalah kepada pohon yang tumbuh besar di sekitarnya. Orang-orang lebih memilih menggeser atau merubah struktur bangunan daripada menebang pohon yang tumbuh besar di sana. Mereka peduli karena sudah menjadi budaya, bukan karena berbagai aturan yang melarangnya. Berbeda sekali mungkin pada sebagian besar masyarakat Indonesia yang tentunya lebih memilih menebang pohon daripada menggeser atau merubah struktur bangunannya. Alih-alih mengalah bahkan mungkin merasa beruntung bisa mendapatkan kayu gratis dari pohon yang ditebang.

Berbeda lagi pengalaman saya di Singapura, negara tetangga terdekat kita, yang mempunyai tata kelola negara teratur dan terbaik di dunia. Saat saya mengelilingi kota dengan kendaraan, terlihat semua jalan beraspal sangat mulus. Bahkan di jalan-jalan kecil sekalipun jalanan terlihat mulus tanpa ada genangan air walaupun hujan pada saat itu. Setelah saya tanyakan kepada supir bis yang membawa saya, bahwa pemeliharaan jalan di Singapura sangat diperhatikan. Pemerintah melakukan pemeliharaan dan perbaikan secara berkala, bahkan terhadap jalan-jalan yang masih baik tetapi diperkirakan akan rusak dalam 1 sd 3 bulan ke depan. Dengan wilayah sebesar DKI Jakarta, mungkin pemerintah Singapura tidak seberat pemerintah Indonesia dalam memperhatikan infrastruktur seperti ini. Tetapi apapun alasannya, seharusnya kita mencoba dengan cara yang sederhana sekalipun melakukan hal-hal seperti tidak mengotori jalanan dengan bebatuan atau pasir dengan cara menutup secara rapi bak truk-truk pengangkut pasir atau tanah, membatasi pekerjaan proyek galian atau proyek bangunan di pinggir jalan dengan pembatas yang tinggi sehingga tidak ada lagi material proyek yang mengotori jalan, menutup tumpukan tanah atau pasir dengan plastik atau terpal sehingga jalan tetap bersih tidak berdebu. Masih banyak contoh yang ditiru dari negeri singa ini, kenapa tidak kita mulai mencobanya dari sekarang !!

Monday, December 7, 2009

Latah dalam Bisnis

Latah dalam kamus bahasa Indonesia berarti gerakan atau ucapan seseorang yang dipicu oleh lingkungannya secara seketika. Latah merupakan tingkah laku yang sering menghinggapi para artis sekarang ini. Walaupun terlihat konyol dan memalukan, namun para artis sengaja mempertontonkan kelatahannya dengan versi masing-masing. Yang paling terkenal adalah bagaimana latahnya Mpo Ati yang sering dipermainkan oleh para Host di Televisi.

Ternyata latah juga menghinggapi kalangan bisnis sekarang ini. Tengoklah di kota manapun sekarang ini bermunculan waralaba-waralaba apakah itu produk makanan, titipan kilat, jasa laundry dll. Semuanya seolah tidak menghiraukan seberapa besar pangsa pasar yang tersedia, seberapa besar profit yang akan diperoleh dan bagaimana cara untuk menjadi pemenang dalam pasar dan segmentasi konsumen yang sama.

Persis yang saya alami saat ini. Di kota Tasikmalaya, yang mulai ramai dengan berbagai produk makanan ini, saya mencoba terjun ke dalam produk kuliner yaitu bakmi jawa. Dengan berbekal franchise yang didapatkan dari seorang mentor saya di entrepreuneur university, saya dirikan bakmi jawa di kota Tasikmalaya. Alhamdulillah, respon pasar cukup baik ditandai dengan peningkatan penjualan dari hari ke hari.

Usaha yang dijalankan dengan modal pas pasan, berdua dengan istri mencoba memasarkan produk khas jawa ini kepada masyarakat Tasik yang notabene sebagian besar Sunda. Tentu saja ada sedikit inovasi produk dari aslinya, dimana kami membuat menu khusus yang dirancang agar lebih familiar dengan lidah orang Sunda. Dan ternyata hal ini cukup berhasil dan menunjukan trend yang positip.

Namun kondisi ini hanya seumur jagung, sebulan kemudian munculah pesaing baru kami yaitu Bakmi Yogya cabang dari Bandung. Spanduk promosi dari pesaing muncul dimana-mana sehingga sempat membuat kami khawatir. Apalagi tempat para pesaing lebih strategis dan cukup representatif. Satu dua minggu pertama kemunculan pesaing, berdampak langsung terhadap penjualan kami. Omzet langsung turun 50% dan kami terus melakukan evaluasi dan langkah-langkah antisipatif.

Satu persatu langkah-langkah antisipatif kami jalankan dan Alhamdulillah pasar kembali merespon walaupun tidak setinggi saat awal bisnis kami. Franchisor sekaligus mentor pun tetap memberikan semangat dan menasehati kami untuk tetap menjaga kualitas produk kami. Cara sederhana untuk menilai kualitas adalah dengan melihat apakah makanan yang kami sajikan ludes habis atau banyak yang tersisa. Kalau makanan sebagian besar atau seluruhnya ludes berarti tidak ada masalah dan kami fokus kepada bagaimana meningkatkan pemasaran.

Mungkin hikmah dari fenomena latah ini, bagi kami adalah bahwa sekali terjun ke dalam bisnis apapun jangan pernah lengah sekalipun, waspadai pesaing, tingkatkan kekuatan dan kurangi kelemahan. Satu lagi manfaat dari begitu banyaknya pesaing adalah pangsa pasar makin besar dan makin banyak. Tinggal kita jeli memanfaatkannya.

Fenomena Es Puter

Suatu saat di kota Bandung, saya diajak oleh adik saya ke rumah temannya di kawasan jalan Karapitan suatu jalan yang terkenal dengan Baso Malang Karapitan dan berbagai toko Babe atau Barang Bekas. Saya diajak menelusuri gang, dan sempat tanya sana sini untuk mencari alamatnya.

Akhirnya saya menemukan alamat yang dicari, suatu rumah yang tidak terlalu besar dengan bentuk yang sederhana. Namun setelah masuk ke dalamnya, ternyata bangunan rumah tersebut lumayan panjang sekitar 20 meteran dan kita bisa masuk dari dua arah yaitu dari depan yang menghadap gang kecil dan di belakang menghadap jalan kecil yang bisa dilalui mobil. Satu lagi yang menarik adalah di sekeliling rumah tersebut nampak beberapa gerobak dorong. Ternyata empunya rumah adalah pemilik bisnis Es Puter.

Menurut cerita pemilik, bisnis es puter ini sudah cukup lama dan dijalankan oleh keluarga. Dan memang terlihat di sekeliling rumah tersebut terdapat rumah-rumah lain yang menjalankan bisnis yang sama. Jumlah pedagang es puter keliling yang dikelolanya sudah mencapai 150-an orang. Apabila kita hitung rata-rata omzet harian dengan asumsi per gerobak sebesar 100 rb-an maka total setiap hari bisa mencapai omzet sekitar 15 jutaan atau 450 juta per bulan. Sungguh angka rupiah yang diluar dugaan apabila kita melihat produk, kondisi tempat dan alat produksinya.

Saya pun penasaran untuk mencoba es puter yang berbahan baku dasar kelapa ini, yang sekilas mirip es krim keluaran produk-produk terkenal ini. Dahsyat memang, rasanya hampir mirip. Dengan berbagai cita rasa seperti strawberry, coklat dll es puter buatan jalan Karapitan ini tidak kalah kelas, apalagi harganya jauh lebih murah. Jadi apapun produknya kalau kualitasnya baik dan tetap terjaga serta dipasarkan dengan tepat, akan menghasilkan keuntungan yang dahsyat, sedahsyat lezatnya es krim puter karapitan ini.

Mendadak Ustadz

Suatu saat, saya menghadiri pertemuan rutin keluarga besar istri saya. Pertemuan rutin yang diselenggarakan bulanan itu biasanya diisi dengan arisan, siraman rohani dan siraman pisik berupa makan bersama. Jumlah keluarga yang datang biasanya berkisar antara 30 sampai 60 orang. Padahal kalau semuanya hadir bisa melebihi 200 orang.

Yang hadir dalam pertemuan tersebut terdiri dari beberapa generasi mulai dari yang tertua jajaran kakek dan nenek, kemudian anak-anaknya serta cucu dan cicit. Ada empat generasi dengan latar belakang yang berbeda-beda berkumpul dengan niat silaturahmi, saling berbagi pengalaman, cerita dan yang tak kalah pentingnya mengharapkan mendapat uang dari arisannya.

Memang acara seperti ini bersifat informal, namun tetap saja harus ada run down acara yang dibuat termasuk siapa diantara yang hadir yang menjadi MC dan siapa yang harus membawakan taushiah. Dan saat hari minggu lalu, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, saya tiba-tiba saja dibisikan oleh tuan rumah untuk memberikan taushiah. Walah, jauh panggang dari api seumur-umur baru kali ini saya didaulat menjadi seorang Ustadz. Ya, bagaimana lagi mau menolak ga enak, terpaksa bondo nekatnya keluar. Dengan diiringan permohonan maaf kalau ada kata-kata yang salah dari Ustadz tembak ini, mulailah satu persatu kata-kata yang berbau ceramah ini meluncur begitu saja dan mengalir. Tanpa terasa 10 menit sudah berlalu dan kayanya materinya sudah terlalu melenceng kesana kemari lebih baik diakhiri saja petualangan saya sebagai Ustadz saat itu.

Alhamdulillah, saya memetik hikmah dibalik kejadian itu adalah bahwa seorang Ustadz adalah sangat berat. Mengapa ?? Karena seorang Ustadz harus mengatakan kebenaran dan kebaikan. Kebenaran dan kebaikan sangat gampang diucapkan. Namun sangat berat untuk dilaksanakan. Makin banyak yang diucapkan semakin banyak juga kebenaran dan kebaikan yang harus diimplementasikan. Semakin banyak perbuatan kita yang tidak sejalan dengan ucapakan maka sungguh berat kiranya hisab kita di akherat. Naudzubillahhimin dzalik.

Membangkitkan Sang Pionir

Di era tahun 80 an sampai dengan 90 an, departmen store yang marak dan menjadi cikal bakal supermarket di Indonesia adalah Matahari Departmen Store. Masih teringat dalam benak saya, bagaimana Matahari muncul dengan cepatnya hampir di setiap kota dan hampir setiap hari ada pembukaan cabang baru. Matahari menjelma menjadi brand supermarket yang paling terkenal dan mampu menjaring konsumen yang paling banyak.

Matahari juga mempelopori program customer loyalty berupa kartu pelanggan matahari atau Matahari Member Card. Dengan kartu ini, para pelanggan Matahari mendapatkan diskon dari setiap transaksi dan bagi yang beruntung mendapatkan hadiah dari undian yang dilakukan secara periodik. Dengan cara ini, konsumen dan pelanggan Matahari Dept. Store makin meningkat seiring dengan jumlah merchant dan produk-produk bermerkyang semakin banyak.

Namun masa-masa keemasan Matahari mulai meredup seiring bermunculan Mall-mall yang besar yang menawarkan kelengkapan dan fasilitas yang lebih banyak lebih mewah dan lebih nyaman bagi para konsumen terutama kelas menengah atas. Apalagi setelah masuknya, hyper mart, carefoure, giant dan mart-mart lainnya yang menyasar para konsumen dengan harga grosir. Semuanya berebut segmen pasar yang hampir sama sehingga lambat laun Matahari mulai kehilangan pasar.

Matahari mencoba melawan persaingan ini dengan membagi jenis storenya ke 3 segmen yaitu kelas menengah atas, menengah bawah, dan bawah. Kelas menengah atas dicoba disasar dengan Galeria Matahari, kelas menengah bawah dengan Matahari (tanpa embel-embel) dan kelas bawah dengan Griya Matahari. Pembagian tiga jenis store pada awalnya cukup efektif meningkatkan pasar, karena merupakan salah satu gebrakan yang inovatif dari Matahari Dept Store yang diterima oleh masyarakat.

Tetapi lagi-lagi, langkah inovatif ini mendapat tantangan yang lebih serius dengan munculnya store-store kecil diantaranya Indomart, Alfamart, Yomart dll. Dengan pola waralaba (franchise) yang ditawarkan store jenis ini, maka dalam waktu singkat di tahun 90 sampai dengan 2000-an, seperti jamur di musim hujan, dimana-mana bermunculan store-store jenis ini. Dengan memposisikan lokasi yang dekat dengan perumahan dan harga yang bersaing, store jenis ini mampu menjaring konsumen dengan transaksi harian yang cukup banyak hingga membuat retail-retail besar seperti Matahari Dept Store, Giant dan Hypermart lainnya mulai kehilangan para pelanggannya.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk membangkitkan Matahari Departmen Store sebagai pionir Super Market di Indonesia. Berikut ini beberapa alternatif yang coba disodorkan diantaranya :

- Munculkan Brand Matahari sebagai store yang berbeda dengan para pesaingnya dengan menciptakan tagline dan spirit baru tidak hanya bagi para konsumen tetapi juga para karyawan dan mitranya. Apabila perlu mengganti logonya yang tidak pernah berubah sejak kemunculan Matahari di Indonesia.
- Permudah entry konsumen baru, dengan cara menawarkan produk-produk yang sedang dicari masyarakat saat ini dengan kualitas yang bagus dan harga bersaing. Apabila perlu menawarkan Delivery Service yang belum pernah dilakukan oleh store manapun saat ini.
- Perbanyak event-event yang akan mengundang pengunjung dengan cara mempermudah bahkan kalau bisa memberikan gratis dan insentif bagi para penyelenggara event (EO) yang berhasil menggaet masa yang lebih banyak di Matahari Dept Store.
- Buat terobosan baru dalam layanan seperti halnya Delivery service, service/ buka 24 jam untuk transaksi super market untuk kebutuhan sehari-hari, Layanan cuci mobil gratis di tempat parkir yang disediakan khusus bagi pemilik member card Matahari, belanja berhadiah langsung dan sebagainya.
- Kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar dengan menawarkan diskon khusus belanja di Matahari yang bisa dibundling dengan pembelian produk perusahaan besar tersebut. Misalkan setiap pembelian kelipatan 100 rb do Matahari Dept Store mendapatkan voucher pulsa Telkomsel sebesar 5000. Atau setiap pembelian mobil di Astra mendapatkan voucher belanja sebesar 200 rb atau Diskon sebesar 20% belanja di Matahari Dept Store.
- Perbanyak social marketing diantaranya pengobatan gratis, khitanan massal dan pemberian sabun gratis kerjasama dengan produsen untuk masyarakat yang kurang mampu dsb.

Mudah-mudahan dengan tulisan ini dapat ditarik manfaatnya baik untuk para pemerhati bisnis maupun bagi para stakeholder Matahari yang ingin mengembalikan kejayaan “sang pionir” di Indonesia.