Showing posts with label Marketing. Show all posts
Showing posts with label Marketing. Show all posts

Sunday, December 13, 2009

Seni dalam Mengundang (Bagian 2)

Berikut ini sedikit tips dalam mengundang :
1.Buat daftar nama yang akan diundang. Pastikan nama, gelar dan alamat tidak keliru.
2.Pilihlah media undangan yang tepat apakah melalui telepon, surat, email, sms atau bertemu langsung. Penggunaan jejaring sosial melalui internet seperti facebook sekarang ini banyak peminatnya dan lebih murah. Namun dengan media yang interaktif ini tentu saja mengandung bahaya apabila kita tidak membatasi diri untuk menjelaskan terlalu banyak dari materi yang akan disampaikan nanti.
3.Jangan bercerita banyak mengenai isi acara atau materi, cukup kata-kata kunci yang akan membuat penasaran yang diundang untuk datang. Misalkan kita mengundang dalam rangka presentasi bisnis baru yang menjanjikan, cukup lah dengan kalimat misalnya "Peluang Luar Biasa, hanya hari ini saja"
4.Pastikan komitmen yang akan diundang untuk datang ke acara. Tangkap sinyal keseriusan untuk datang melalui alasan atau respon yang diundang. Apabila terdapat alasan "akan cek jadwal dahulu" atau "kalau tdk ada kesibukan" atau " saya akan coba.." dapat diperkirakan tingkat kehadirannya maksimal 25%.
5.Berikan pujian yang tulus atas kebaikan atau keistimewaan yang diundang saat berinteraksi dengan mereka.

Memang banyak teori atau pengalaman cara mengundang yang efektif dari orang lain. Tetapi yang lebih baik adalah mencoba terus dengan keyakinan dan semangat pantang menyerah. Insya Allah, akhirnya akan berhasil juga.

Thursday, December 10, 2009

Seni Dalam Mengundang (Bagian 1)


Banyak kejadian yang saya alami, dalam pertemuan atau rapat yang melibatkan pihak luar (bukan internal organisasi) dihadiri oleh separuh bahkan hanya beberapa gelintir undangan. Padahal pertemuan atau rapat tersebut berskala cukup besar dengan biaya yang cukup besar juga. Hal ini tidak hanya berlaku untuk pengundang dari perusahaan kecil tetapi juga perusahaan-perusahaan besar. Tidak hanya itu, walaupun jumlah yang datang cukup banyak tetapi rata-rata kedatangan para undangan itu tidak tepat waktu atau mulur bahkan sampai dengan 1 atau 2 jam.

Suatu saat, saya menghadiri Gathering Outlet bersama salah satu operator telekomunikasi di Indonesia. Di dalam undangan tertera acara akan dimulai pukul 10 pagi, dan saya pun bergegas agar tidak kesiangan karena pada saat itu saya ditunjuk untuk mewakili perusahaan dalam acara tersebut. Namun entah kenapa, sesampainya di lokasi acara, yang terlihat hanyalah dari jajaran panitia serta beberapa orang tamu undangan. Mau tidak mau saya menunggu dan menunggu, hingga acara dimulai 1,5 jam kemudian. Itupun jumlah undangan yang hadir hanya separuh dari tempat duduk yang tersedia .

Banyak kejadian yang sama terjadi terutama pada pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan untuk menjaring prospek seperti dalam MLM dsb. Apa letak kesalahannya sehingga pertemuan sepi dari peminat. Jawabannya adalah kesalahan dalam mengundang. Mengundang dianggap hal yang biasa dan secara subyektif hanya memperhatikan content dari undangan tetapi kurang jeli dalam melihat contex dengan yang diundang. Mengundang perlu teknik dan seni tertentu sehingga diharapkan tingkat keberhasilan undangan pun lebih tinggi.

Tuesday, December 8, 2009

Misteri dalam Bisnis Kuliner


Berbisnis kuliner merupakan bisnis yang memerlukan kejelian dalam menangkap selera masyarakat. Tidak semua teori marketing bisa diterapkan seperti halnya Teori Marketing Mix-nya Kotler yaitu 4 P yang terdiri dari Product, Price, Promote, dan Place. Teori lainnya 7P yaitu 4 P di atas dan tambahan 3 P lainnya yaitu Process, People dan Phisycal Evidence. Secara umum, dengan teori ini dapat diimplementasikan dengan baik oleh rata-rata perusahaan besar yang telah maju.

Namun bagaimana halnya yang terjadi pada bisnis kuliner. Dengan sumber daya yang sangat terbatas agak sulit untuk mengimplementasikan bauran pemasaran secara ideal. Bisnis kuliner yang sebagian besar digerakkan oleh bisnis keluarga yang bersifat bisnis pinggir jalan dan bisnis “bakat” (bakat kubutuh – dalam bahasa sunda) secara operasional terkadang dilakukan begitu saja tanpa memperhatikan unsur pemasarannya. Dengan resiko yang memang tidak besar, para pelaku bisnis kuliner ini seakan tidak terlalu memusingkan rencana bisnisnya atau bisnis plan yang akan dijalankan. Mereka berharap dengan bergulirnya waktu produknya lambat laun akan semakin semakin laris.

Memang fenomena yang terjadi, banyak pengusaha kuliner yang berhasil bukan faktor 4 P di atas. Seperti salah satu contoh adalah penjual Tutug Oncom (T.O.) di Dadaha kota Tasikmalaya. Setiap hari tempat T.O. tersebut dipenuhi oleh pembeli dan sebelum jam 3 siang, tidak menerima lagi pembeli karena makanan yang ada Sold Out. Apa kelebihan T.O tersebut ? Kalau diperhatikan dari segi produk, nasi tutug oncom yang disajikan biasa saja. Dari segi tempat sangat terbatas, hanya tenda biasa, terdapat di pinggir sungai dan tidak terlalu strategis (tidak dilalui kendaraan umum). Dari segi harga juga tidak murah-murah amat. Apalagi promosi kelihatannya sama sekali nihil kecuali melalui mulut ke mulut ataupun pemberitaan dan ulasan seperti ini. Lalu dimana letak keberhasilan pemasarannya ?

Saya juga tidak tahu bagaimana asal usulnya sehingga penjual nasi T.O. di Dadaha Tasik ini menjadi terkenal. Apakah karena menjadi pionir penjualan nasi TO di Tasik sehingga terjadi akumulasi pelanggan dalam rentang waktu sekian lama. Ataukah karena keterbasan tempat dan produk sehingga memancing rasa penasaran. Saya tidak tahu persis penyebabnya, tapi yang pasti dalam dunia kuliner selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk menjaring pelanggan. Yang dibutuhkan adalah menangkap selera konsumen tersebut dan apalagi kalau kita mampu secara kreatif menuangkannya dalam produk atau layanan, mengapa tidak, kita juga bisa maju.

Monday, December 7, 2009

Membangkitkan Sang Pionir

Di era tahun 80 an sampai dengan 90 an, departmen store yang marak dan menjadi cikal bakal supermarket di Indonesia adalah Matahari Departmen Store. Masih teringat dalam benak saya, bagaimana Matahari muncul dengan cepatnya hampir di setiap kota dan hampir setiap hari ada pembukaan cabang baru. Matahari menjelma menjadi brand supermarket yang paling terkenal dan mampu menjaring konsumen yang paling banyak.

Matahari juga mempelopori program customer loyalty berupa kartu pelanggan matahari atau Matahari Member Card. Dengan kartu ini, para pelanggan Matahari mendapatkan diskon dari setiap transaksi dan bagi yang beruntung mendapatkan hadiah dari undian yang dilakukan secara periodik. Dengan cara ini, konsumen dan pelanggan Matahari Dept. Store makin meningkat seiring dengan jumlah merchant dan produk-produk bermerkyang semakin banyak.

Namun masa-masa keemasan Matahari mulai meredup seiring bermunculan Mall-mall yang besar yang menawarkan kelengkapan dan fasilitas yang lebih banyak lebih mewah dan lebih nyaman bagi para konsumen terutama kelas menengah atas. Apalagi setelah masuknya, hyper mart, carefoure, giant dan mart-mart lainnya yang menyasar para konsumen dengan harga grosir. Semuanya berebut segmen pasar yang hampir sama sehingga lambat laun Matahari mulai kehilangan pasar.

Matahari mencoba melawan persaingan ini dengan membagi jenis storenya ke 3 segmen yaitu kelas menengah atas, menengah bawah, dan bawah. Kelas menengah atas dicoba disasar dengan Galeria Matahari, kelas menengah bawah dengan Matahari (tanpa embel-embel) dan kelas bawah dengan Griya Matahari. Pembagian tiga jenis store pada awalnya cukup efektif meningkatkan pasar, karena merupakan salah satu gebrakan yang inovatif dari Matahari Dept Store yang diterima oleh masyarakat.

Tetapi lagi-lagi, langkah inovatif ini mendapat tantangan yang lebih serius dengan munculnya store-store kecil diantaranya Indomart, Alfamart, Yomart dll. Dengan pola waralaba (franchise) yang ditawarkan store jenis ini, maka dalam waktu singkat di tahun 90 sampai dengan 2000-an, seperti jamur di musim hujan, dimana-mana bermunculan store-store jenis ini. Dengan memposisikan lokasi yang dekat dengan perumahan dan harga yang bersaing, store jenis ini mampu menjaring konsumen dengan transaksi harian yang cukup banyak hingga membuat retail-retail besar seperti Matahari Dept Store, Giant dan Hypermart lainnya mulai kehilangan para pelanggannya.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk membangkitkan Matahari Departmen Store sebagai pionir Super Market di Indonesia. Berikut ini beberapa alternatif yang coba disodorkan diantaranya :

- Munculkan Brand Matahari sebagai store yang berbeda dengan para pesaingnya dengan menciptakan tagline dan spirit baru tidak hanya bagi para konsumen tetapi juga para karyawan dan mitranya. Apabila perlu mengganti logonya yang tidak pernah berubah sejak kemunculan Matahari di Indonesia.
- Permudah entry konsumen baru, dengan cara menawarkan produk-produk yang sedang dicari masyarakat saat ini dengan kualitas yang bagus dan harga bersaing. Apabila perlu menawarkan Delivery Service yang belum pernah dilakukan oleh store manapun saat ini.
- Perbanyak event-event yang akan mengundang pengunjung dengan cara mempermudah bahkan kalau bisa memberikan gratis dan insentif bagi para penyelenggara event (EO) yang berhasil menggaet masa yang lebih banyak di Matahari Dept Store.
- Buat terobosan baru dalam layanan seperti halnya Delivery service, service/ buka 24 jam untuk transaksi super market untuk kebutuhan sehari-hari, Layanan cuci mobil gratis di tempat parkir yang disediakan khusus bagi pemilik member card Matahari, belanja berhadiah langsung dan sebagainya.
- Kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar dengan menawarkan diskon khusus belanja di Matahari yang bisa dibundling dengan pembelian produk perusahaan besar tersebut. Misalkan setiap pembelian kelipatan 100 rb do Matahari Dept Store mendapatkan voucher pulsa Telkomsel sebesar 5000. Atau setiap pembelian mobil di Astra mendapatkan voucher belanja sebesar 200 rb atau Diskon sebesar 20% belanja di Matahari Dept Store.
- Perbanyak social marketing diantaranya pengobatan gratis, khitanan massal dan pemberian sabun gratis kerjasama dengan produsen untuk masyarakat yang kurang mampu dsb.

Mudah-mudahan dengan tulisan ini dapat ditarik manfaatnya baik untuk para pemerhati bisnis maupun bagi para stakeholder Matahari yang ingin mengembalikan kejayaan “sang pionir” di Indonesia.

Sunday, December 6, 2009

Wisuda, ajang perusahaan berpromosi

Suatu saat, saya sama istri berkunjung ke Bandung dalam rangka menghadiri wisuda adik saya di salah satu perguruan tinggi di kota Kembang. Hal yang biasa terjadi dalam suatu wisuda adalah keramaian, kemacetan dan maraknya bisnis photo instan. Padahal kita tahu dalam era kamera digital sekarang ini, orang tidak perlu lagi repot untuk menyewa tukang photo secara khusus, cukup beli kamera digital yang relatif terjangkau, tinggal cari obyek, cari suasana yang nyaman atau cari latar belakang yang bagus, langsung jepret. Namun tukang photo pun tak kalah akal, dengan berbagai latar belakang “wall paper” yang cukup menarik, proses pencetakan yang cukup cepat dan harga yang cukup murah, transaksi photo ini tetap saja banyak menarik konsumen.

Tidak disitu saja, sekarang ini wisuda merupakan kesempatan perusahaan besar sekalipun untuk melakukan promosi ataupun penjualan. Dalam kesempatan ini, salah satu operator seluler yang baru muncul melakukan kegiatan pemasaran dengan cara membuka counter di area kampus. Tidak cukup satu tetapi beberapa counter, termasuk menyediakan panggung hiburan secara khusus yang dibranding produk. Yang paling menarik adalah bahwa setiap wisudawan/wati yang jumlahnya lebih dari 1000 orang ini mendapatkan handphone yang telah dibundling dengan kartu seluler dengan harga yang sangat murah yaitu cuma 100 rb rupiah. Terlepas dari biaya subsidi untuk handphone tersebut, saya kira kejelian Perusahaan seluler dalam menangkap moment Wisuda ini perlu diacungi jempol. Acara wisuda yang sering diplesetkan ”wis sudah” ternyata punya potensi lain yang luar biasa.

Acara wisuda yang terasa sangat panjang karena hanya diisi oleh berbagai sambutan dan seremonial sarjana, membuat badan terasa agak lelah. Apalagi diantara bejibun orang yang menghadiri acara tersebut, begitu banyak orang dengan berbagai latar belakang, usia dan ekonomi sehingga kampus yang megah tersebut terlihat sebagai pasar pagi dengan berbagai aromanya. Untungnya selepas dari kepenatan acara, saya bergegas menuju salah satu hypermart terdekat yang cukup nyaman dan saya bisa relaksasi untuk menyegarkan lagi badan dan pikiran.

Wednesday, July 22, 2009

Marketing Jalanan

Begitu bejibun refensi mengenai Marketing mulai dari Philip Kotler, Mc Carty, Hermawan Kertajaya, dll. Namun dari sejumlah referensi yang saya baca, ada buku yang menarik untuk dibaca karena sifatnya yang praktis dan mudah diimplementasikan yaitu Marketing is Bullshit karya Ippho Santosa.

Dalam buku tersebut dijelaskan trik-trik dalam melakukan promosi seperti :
  • Karangan Bunga untuk Launching
  • Lemming Effect untuk memberi kesan padat pengunjung
  • Cara menggaet klien-klien besar
  • SMS atau Telepon Request di Radio
  • Pemanfaatan Counter Informasi
  • Rahasia Bisikan Pelanggan
  • Rahasia Titip Nama dan Nomor
  • Collective Branding untuk meningkatkan promosi dan networking
  • Pemanfaatan Foto Tokoh

Inti dari buku ini adalah menggali kreativitas dari otak kanan kita, jangan sampai terbelenggu oleh teori-teori marketing yang sudah ada. Cari jalan keluar dari kesulitan, hadapi tantangan, temukan peluang dan raih kemenangan. Dan akhirnya jadikan suatu terobosan menjadi profit bagi perusahaan Anda.