Showing posts with label spiritual. Show all posts
Showing posts with label spiritual. Show all posts

Monday, June 20, 2011

Spiritualitas dalam Perusahaan

Belakangan ini, concern perusahaan-perusahaan besar terhadap aspek etical ini telah berkembang lebih jauh ke semacam ”spritualisasi” manajemen. Perkembangan baru tersebut telah mendorong perusahaan–perusahaan besar untuk meningkatkan spiritualitas para pemimpin dan karyawannya. Hal ini terjadi bukan semata-mata karena munculnya kecenderungan baru di negara-negara maju pada spiritualitas, melainkan juga karena adanya kaitan yang amat erat antara spiritulitas dan keberhasilan bisnis.

Dr. Gay Hendricks dan Dr. Kate Ludeman dalam buku Corporate Mystic secara lugas menyatakan bahwa dalam era pasar global, akan ditemukan orang-orang suci, mistikus, atau sufi di perusahaan-perusahaan besar atau organisasi-organisasi modern, bukan di wihara, kuil, gereja atau masjid.

Kenyataannya, setelah tak kurang dari seribu jam wawancara dengan ratusan pengusaha dan eksekutif perusahaan-perusahaan sukses di AS, kedua penulis itu mendapati bahwa para pebisnis itu memiliki sifat-sifat yang biasanya dimiliki oleh para mistikus.

Mereka menjalani hidup dari suatu basis spiritual, dan terus memelihara hubungan mereka dengan sifat spiritual diri mereka, orang lain, dan dunia disekeliling mereka. Mereka terlibat dalam suatu bisnis dengan hati dan jiwa mereka sebagaimana dengan dompet mereka. Sejalan dengan itu, mereka berada dalam bisnis juga untuk mendukung hati dan jiwa orang-orang yang bekerja bersama mereka. Berikut ini adalah ciri-ciri para Mistikus Korporat, menurut Hendricks dan Ludeman :

1. Kejujuran Total

Rahasia pertama kesuksesan bisnis, menurut para Mistikus Korporat, adalah mengatakan hanya yang benar dan mengatakannya dengan konsistensi total. Bagi mereka, integritas bukanlah semata-mata gagasan yang mulia, ia adalah alat bagi kesuksesan personal dan korporat. Mereka juga amat jujur kepada diri mereka sendiri, betapapun kadang-kadang kebenaran tersebut menyakitkan.

2. Fairness

Para Mistikus Korporat melakukan apa yang mereka katakan dan tidak mengatakan apa tidak mereka lakukan. Diantara keunggulan para Mistikus Korporat adalah kemampuan mereka untuk bertanya, ”Apakah hal ini fair bagi semua pihak?” meskipun dalam situasi pressure yang amat besar.

3. Pengembangan tentang Diri Sendiri

Para Mistikus Korporat amat concern terhadap pentingnya belajar tentang diri mereka sendiri. Mereka mengenali bahwa pikiran, tubuh dan ruh adalah alat-alat yang dengannya kita melakukan tindakan. Oleh karenanya, mereka memberikan perhatian besar pada upaya menguji motif-motif sejarah (masa lampau), dan perasaan-perasaan mereka.

4. Fokus pada Kontribusi

Para pengusaha sukses sering digambarkan sebagai orang yang serakah. Sejatinya tidaklah demikian, mereka justru amat concern pada kesejahteraan dan empowerment orang lain. Kontribusi mereka terhadap orang lain selalu berada di latar depan niat-niat mereka.

5. Spiritualitas (Non-dogmatik)

Kesemua karakteristuik para Mistikus Korporat itu pada dasarnya adalah dasar-dasar spiritualitas universal. Lebih dekat dari itu, sebagai spiritualis, mereka memiliki kelebihan untuk melihat bahwa dibalik hal-hal yang partikular terdapat kesalinghubungan universal yang mengikat segala sesuatu.

6. Mencapai Lebih banyak hasil dengan Lebih Sedikit Upaya

Inilah salah satu kredo dan gaya bekerja para Mistikus Korporat. Mereka belajar untuk memusatkan perhatian pada masa sekarang. Hanya jika kita berada pada masa sekarang—bukannya terjebak dalam penyesalan terhadap pada masa lampau dan kekhawatiran tentang masa depan—waktu bisa ditaklukan. Ini karena memang hanya masa sekaranglah yang bisa dikelola.

7. Membangkitkan yang terbaik dalam Diri Mereka dan Orang lain

Segenap tradisi mistik berbicara tentang ruang yang jernih dipusat diri kita, apakah itu disebut jiwa, ruh atau esensi. Inilah yang mencerminkan inti dari diri kita. Para Mistikus Korporat mengetahui cara untuk saling memelihara fokus pada esensi diri mereka ini, dan juga pada diri orang lain, juga cara membangkitkannya.

8. Keterbukaan terhadap Perubahan

Para Mistikus Korporat memiliki kesenangan terhadap perubahan hingga ke tulang sumsum mereka. Mereka tahu bahwa segala sesuatu terus berubah. Dengan demikian, mereka mampu melepaskan kecenderungan untuk merasa benar karena sikap seperti ini sering menghalangi kita untuk bisa terus menerus beradaptasi terhadap perubahan. Sebaliknya para Mistikus Korporat terus belajar mengenai cara mengalir bersama perubahan dan bahkan berkembang di atas perubahan tersebut. Para nonmistikus biasanya mengalami mabuk laut di tengah perubahan karena mereka menipu diri dengan menganggap masih didaratan yang kering.

9. Cita-Rasa Humor yang Tinggi

Para Mistikus Korporat banyak tertawa. Mereka mudah melihat kekonyolan hidup hewan yang bernama manusia ini. Mereka pun cepat memasukkan diri mereka ke dalam humor-humor yang mereka buat karena mereka menyadari kesakralan dan terkadang absurditas hidup ini.

10. Visi Jauh ke Depan dan Fokus yang Cermat

Para Mistikus Korporat memiliki bakat untuk mengajak orang memiliki mimpi-mimpi besar. Mereka bisa berdiri pada masa depan dan menggambarkan peta terperinci tentang cara mencapainya.

11. Disiplin-Diri yang Ketat

Para Mistikus Korporat amat berdisiplin. Akan tetapi, disiplin mereka bersumber dari gairah. Pada umumnya, mereka tak bertumpu pada disiplin otoriter yang didorong oleh rasa takut. Mereka memotivasi diri mereka melalui sense of purpose yang jelas. Model disiplin seperti ini menjadikan mereka fleksibel dan mudah menyesuaikan diri.

12. Keseimbangan

Para Mistikus Korporat selalu mencari kesimbangan hidup mereka dalam sedikitnya empat bidang kehidupan : keintiman (perkawinan, keluarga dan persahabatan), pekerjaan, spiritualitas, dan masyarakat (termasuk kehidupan sosial dan politik).

Melihat 12 karakteristik para Mistikus Korporat ini, tak sulit bagi kita untuk melihat kesesuaiannya dengan : Pertama, ciri-ciri para mistikus yang sebenarnya. Selain kejujuran dan fairness, kita lihat para mistikus memang menekankan pada pentingnya pengetahuan diri. Mereka juga memiliki pemahaman bahkan terus menerus mengadili motif-motif diri sendiri. Para mistikus rela berkorban bagi kepentingan orang lain dan mengedepankan sifat nrimo secara aktif terhadap segala perubahan baik atau buruk.

Kedua, tuntutan akan sifat-sifat pemimpin, eksekutif, atau pengusaha sukses pada era informasi dan globalisai seperti sekarang ini. Sebagaimana diramalkan banyak ahli, masa depan lingkungan usaha memiliki beberapa sifat utama sebagai berikut : perubahan yang amat cepat, makin menipisnya batas-batas antar negara, makin penting dan menentukannya peran daya manusia, makin powerful-nya knowledge dan informasi, serta makin canggihnya teknologi. Untuk menghadapi tantangan seperti ini, dari setiap pemimpin, eksekutif, manajer, ataupun pengusaha wiraswasta dituntut untuk menanamkan gaya manajemen yang visioner, terbuka, dan mementingkan concern terhadap kesejahteraan sesama koleganya.

Kesemuanya ini hanya memperkuat kesimpulan yang bisa kita tarik : tidak perlu ada konflik antara cara berbisnis yang etis dengan kegiatan keduniawian kita ini. Dengan kata lain, kita bisa menjadi pengusaha, eksekutif, manajer, ataupun karyawan sebuah perusahaan bisnis yang sukses dan, pada saat bersamaan, kita bisa hidup sejahtera secara spiritual.

Tidak hanya bisa, kini tampaknya kita mesti mengatakan : harus! Hanya dengan demikian kita bisa mengembangkan hal yang belakangan ini disebut good corporate govovernance yang diharapkan tidak saja dapat mengatasi problem kronis dunia bisnis dan ekonomi kita secara keseluruhan, tapi juga mendorong kita untuk melangkah maju ditengah jalan menuju cita-cita untuk melahirkan manusa-manusia Indonesia yang seutuhnya.



Disadur dari dari buku ”The Corporate Mystic : A Guidebook for Visionaries with Their Feet on the Ground” karya Gay Hendricks dan Kate Ludeman, pakar dan konsultan berbagai perusahaan besar di AS.

Monday, April 5, 2010

Bekerja keras menuju Tuhan


Wahai Manusia Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemuiNya. (QS 84 : 6).

Satu ayat yang tak sengaja kubaca pada saat tengah malam mengingatkanku akan jati diriku selama ini. Secara tak sadar ayat ini terus terngiang di pikiranku dan merefleksikan apa yang sebenarnya ingin kucapai dalam hidup ini.

Selama ini, konsep dan realitas kehidupan ternyata hanya didominasi oleh paradigma bagaimana bekerja keras untuk dunia agar mendapatkan dunia dengan segala kenikmatannya sebanyak-banyaknya. Makin bekerja keras untuk mendapatkannya, maka makin terasa panjang jalan yang harus ditempuh.

Ibadah yang sampai saat ini dilakukan, hanyalah serpihan-serpihan kecil yang kadarnya tidak berimbang dengan apa yang dilakukan untuk dunia ini. Kadang timbul tenggelam, tergantung dari situasi yang menyelimuti hati dan pikiran. Saat dunia terasa tidak berpihak kepadaku, maka aku membutuhkan agamaku, tetapi pada saat dunia berpihak kepadaku, maka seringkali kulupa menjaga ibadahku.

Itulah mengapa, mulai saat ini kuprogram ulang seluruh agenda harianku. Harus ada breakthrough, sehingga aku bisa berprestasi juga dalam ibadahku. Jalan yang terbaik menuju Tuhanku, yang harus kulalui lebih keras dariapa yang harus kujalani untuk duniaku.

Monday, December 7, 2009

Mendadak Ustadz

Suatu saat, saya menghadiri pertemuan rutin keluarga besar istri saya. Pertemuan rutin yang diselenggarakan bulanan itu biasanya diisi dengan arisan, siraman rohani dan siraman pisik berupa makan bersama. Jumlah keluarga yang datang biasanya berkisar antara 30 sampai 60 orang. Padahal kalau semuanya hadir bisa melebihi 200 orang.

Yang hadir dalam pertemuan tersebut terdiri dari beberapa generasi mulai dari yang tertua jajaran kakek dan nenek, kemudian anak-anaknya serta cucu dan cicit. Ada empat generasi dengan latar belakang yang berbeda-beda berkumpul dengan niat silaturahmi, saling berbagi pengalaman, cerita dan yang tak kalah pentingnya mengharapkan mendapat uang dari arisannya.

Memang acara seperti ini bersifat informal, namun tetap saja harus ada run down acara yang dibuat termasuk siapa diantara yang hadir yang menjadi MC dan siapa yang harus membawakan taushiah. Dan saat hari minggu lalu, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, saya tiba-tiba saja dibisikan oleh tuan rumah untuk memberikan taushiah. Walah, jauh panggang dari api seumur-umur baru kali ini saya didaulat menjadi seorang Ustadz. Ya, bagaimana lagi mau menolak ga enak, terpaksa bondo nekatnya keluar. Dengan diiringan permohonan maaf kalau ada kata-kata yang salah dari Ustadz tembak ini, mulailah satu persatu kata-kata yang berbau ceramah ini meluncur begitu saja dan mengalir. Tanpa terasa 10 menit sudah berlalu dan kayanya materinya sudah terlalu melenceng kesana kemari lebih baik diakhiri saja petualangan saya sebagai Ustadz saat itu.

Alhamdulillah, saya memetik hikmah dibalik kejadian itu adalah bahwa seorang Ustadz adalah sangat berat. Mengapa ?? Karena seorang Ustadz harus mengatakan kebenaran dan kebaikan. Kebenaran dan kebaikan sangat gampang diucapkan. Namun sangat berat untuk dilaksanakan. Makin banyak yang diucapkan semakin banyak juga kebenaran dan kebaikan yang harus diimplementasikan. Semakin banyak perbuatan kita yang tidak sejalan dengan ucapakan maka sungguh berat kiranya hisab kita di akherat. Naudzubillahhimin dzalik.

Bersyukur setiap saat

Mengapa manusia dilanda kegelisahan di saat-saat tertentu? Mengapa manusia sering dilanda putus asa menghadapi masalah yang tak kunjung selesai? Mengapa banyak manusia yang bunuh diri padahal manusia terlahir ke dunia diikuti dengan isak tangis kebahagiaan, dan perjuangan untuk terus hidup sampai akhir hayat.

Semua kegelisahan, semua keputusasaan dan perbuatan aniaya bermuara kepada masalah hati dan pikiran. Kalau kita hubungkan dengan agama yang kita anut, sudah jelas bahwa apapun yang terjadi terhadap kita sebagai manusia adalah suatu takdir ilahi yang harus kita terima sebagai bagian dari hidup dan kehidupan itu sendiri. Ibaratnya berani hidup harus berani menanggung resiko hidup. Harus bisa menerima kesenangan tetapi dalam saat yang sama juga harus siap menerima kesedihan dan penderitaan.

Susah senang, bahagia penderitaan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Bagi orang yang beriman, tidak ada bedanya antara kesenangan dan penderitaan. Semuanya adalah ujian yang diberikan Allah SWT untuk menentukan bagaimana kadar keimanan masing-masing yang kelak nanti akan dihisab dan diberi ganjaran berupa surga untuk yang lulus dan neraka bagi yang tidak lulus. Namun sebagian besar manusia bahkan yang beragama sekalipun banyak yang gagal dalam menjalani ujian ini. Faktor utamanya adalah sifat hedonis yang melekat pada diri manusia. Apalagi dalam kondisi dunia saat ini yang semakin modern dalam kacamata materialisme. Semua kesenangan dan kebahagiaan ditakar dengan materi, seberapa banyak uang yang tersimpan, seberapa banyak bisnis yang digeluti, seberapa banyak property yang dimiliki dan simbol-simbol keduniaan lainnya yang membuat manusia semakin terpacu untuk mengejarnya.

Sifat hedonisme yang makin meningkat tidak terimbangi oleh peningkatan nilai spiritual dalam individu seorang manusia akan memunculkan gejala-gejala psikis yang rawan terjadinya stres. Apalagi dalam kondisi ini, nilai-nlai spiritual sering dikecohkan oleh aktivitas-aktivitas bisnis yang menggunakan spiritual sebagai kedoknya. Akhirnya esensi spiritualitas yang didasari oleh Agama tidak mengena dalam hati dan pikiran. Agama yang dijadikan simbol tingkat spiritual seseorang hanya menjadi simbol, keilmuan dan ritualitas belaka. Padahal Agama diciptakan Tuhan untuk dijadikan Way of Life agar manusia bisa selamat di kehidupan dunia dan akherat.

Sudah jelas, ingin hidup selamat Dunia Akherat pakailah Agama. Bersyukurlah setiap saat dalam keadaan dan kondisi bagaimanapun. Berpikirlah hidup jauh ke depan melewati dimensi waktu (dunia) sehingga hal-hal kecil yang mengganggu perjalanan kita ini akan terasa ringan. Hidup adalah anugerah yang diberikan khusus oleh Tuhan untuk hambanya yang sanggup memikulnya. Jadikan hidup ini lebih berarti lebih manfaat dan lebih bernilai dalam pandangan Allah SWT.