Thursday, June 10, 2010

Kehabisan Waktu



Banyak diantara kita termasuk saya, sulit untuk menyempatkan diri menulis secara rutin dan tepat waktu. Kadang-kadang sudah diprogram menulis untuk seminggu sekali, tapi nyatanya lebih dari itu kadang-kadang malah berminggu-minggu.

Biasanya yang menyebabkan kita sulit untuk menulis secara disiplin adalah merasa kehabisan ide menulis, pikiran tiba-tiba mandek hingga timbul rasa malas dan kita pun putuskan untuk melupakan dulu kegiatan menulis.

Tetapi mungkin juga kita terlalu sibuk dan kewalahan dengan berbagai kegiatan, baik yang penting maupun yang tidak penting bahkan sepele yang menyebabkan kita kehabisan energi dan waktu pada saat mau menulis.

Bagi teman-teman yang kebetulan menjalani pekerjaan sebagai manager. Berikut ini ada email yang menarik dari teman saya Mbak Fitri, yang saya posting lagi disini.

Bill Oncken di “ Harvard Business Review “ [1974] menulis sebuah artikel klasik yang sangat menarik dengan judul “ Mengelola Manajemen Waktu: Monyet Siapa ini? ” Dalam artikel tersebut Oncken menjabarkan bahwa ada tiga jenis manajemen waktu, yakni:


1. Waktu yang dipaksakan bos – digunakan untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitas yang bos inginkan dan si manajer tidak bisa mengacuhkan tanpa beresiko mendapatkan hukuman (langsung atau tidak).
2. Waktu yang dipaksakan sistem – digunakan untuk mengerjakan tuntutan-tuntutan administratif dan pekerjaan dari rekan kerja. Mengacuhkan permintaan ini bisa beresiko mendapatkan hukuman/penalti (langsung atau tidak).
3. Waktu yang dipaksakan sendiri – digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang kita putuskan sendiri. Di sini tidak ada penalti.


Dimana monyetnya?

Suatu ketika, misalnya, Anda sedang tergesa-gesa berjalan di lorong kantor ketika salah seorang staf Anda mendekati dan menyapa, “Selamat pagi Pak. Boleh saya bicara sebentar? Kita ada masalah nih, Pak”. Karena Anda perlu mengetahui masalah subordinate Anda, maka Anda pun berhenti dan mendengarkan staf Anda menjelaskan masalahnya secara rinci. Anda terjebak di tengah-tengahnya. Karena pemecahan masalah itu memang bidang Anda, tak terasa waktu pun berlalu. Ketika akhirnya Anda melirik jam tangan, obrolan yang tampaknya hanya tiga menit itu ternyata sudah memakan waktu tiga puluh menit.

Karena hanya sekilas, Anda memutuskan yang penting tahu dulu masalahnya meski belum cukup tahu untuk mengambil keputusannya. Maka Anda pun mengatakan, “Ini masalah penting, tetapi saya belum ada waktu membahasnya. Biar saya pikirkan dulu, nanti saya beri kabar.” Anda pun berpisah. Diskusi tersebut membuat Anda terlambat sampai ke tempat tujuan.

Monyet pertama

Sebelum Anda berjumpa di lorong itu, sesungguhnya monyetnya ada di punggung staf Anda. Ketika Anda berdua membicarakannya, masalahnya menjadi pertimbangan bersama, maka monyet pun memijak punggung Anda berdua. Namun saat Anda mengatakan, “Biar saya pikirkan dulu; nanti saya beri kabar,” beban di punggung Anda menjadi berlipat sementara staf Anda pergi dengan beban dua puluh kilogram lebih ringan. Kenapa begitu? Sebab monyetnya sudah sepenuhnya pindah ke punggung Anda.”

Mari kita berandai-andai. Taruh kata masalah yang dipertimbangkan itu adalah bagian dari tugas staf Anda tadi dan, taruh kata lagi, sesungguhnya ia mampu betul memberikan usulan-usulan solusi bagi masalah yang dibicarakannya itu. Maka, ketika Anda membiarkan monyetnya pindah ke punggung Anda, itu sama saja dengan Anda secara sukarela mengerjakan dua hal yang semestinya dikerjakan oleh staf Anda tadi, yakni:

1. Menerima tanggung jawab atas masalah milik staf Anda, dan
2. Menjanjikan laporan perkembangan kepada staf tersebut

Rumusannya, “ Untuk setiap monyet, selalu ada dua pihak yang terlibat: Yang menyelesaikan dan yang mengawasinya .”

Dalam kasus di atas, tampak bahwa Anda yang berperan sebagai bawahan, sementara bawahan Anda justru berperan sebagai pengawas. Keesokan harinya staf tersebut datang beberapa kali ke ruangan Anda dan mengatakan, “Apa kabar Pak? Bagaimana hasilnya?” Kalau Anda belum memecahkan persoalannya secara memuaskan baginya, bisa-bisa ia akan menekan Anda untuk mengerjakan apa yang sesungguhnya adalah pekerjaannya, dan bukan pekerjaan Anda.


Monyet kedua

Anda menerima memo dari Boni, salah seorang staf Anda, yang intinya berbunyi, “Pak, kita kurang didukung oleh bagian Gudang dalam proyek X. Bisakah Bapak bicara dengan manajer mereka?” Dan, tentunya Anda mengiyakan. Semenjak itu Boni sudah dua kali menindak-lanjuti persoalannya dengan pertanyaan, “Bagaimana soal proyek X nya Pak? Bapak sudah bicara belum dengan bagian Gudang? Dua kali pula Anda dengan rasa bersalah menjawab, “Belum sih, tetapi jangan kuatir, pasti saya bicarakan”.

Monyet ketiga

Kali ini datang dari Mimi. Dengan cerdik ia menyanjung Anda terlebih dulu sebelum akhirnya meminta tolong, sebab Anda punya pengetahuan yang mendalam tentang organisasi dan keunikan teknis dari masalah yang dihadapinya ketimbang dirinya.


Monyet keempat

Satu lagi monyet yang Anda janjikan adalah membuat uraian tugas buat Santi. Ia staf yang baru dipindahkan dari departemen lain untuk mengisi posisi yang baru saja diciptakan dalam departemen Anda. Anda belum sempat menentukan secara spesifik apa saja tugas jabatan baru itu. Jadi, ketika ia bertanya apa yang diharapkan darinya, Anda berjanji untuk menuliskan uraian tugas untuk mengklarifikasikan tanggung-jawabnya.


Monyet kelima

Putera Anda pulang dari sekolah dan berkata, ”Ayah! Ibu! Aku diterima jadi anggota tim basket yunior!”

Anda menyahut, “Woww…keren..! Ayah dan Ibu bangga, nak!” Lalu ia berkata, “Tapi Ayah…Ibu…aku mau diantar-jemput ke tempat latihan setiap hari Selasa, Kamis, dan Jumat sepulang sekolah.” Nah, satu monyet dilemparkan lagi. Lalu siapakah yang akan mendapatkan monyet itu? Sudah pasti Anda dan isteri Anda. Yang mulanya kabar gembira sekarang menjadi monyet, bukan?

Akan lebih parah lagi jika monyetnya segera beranak pinak! Isteri Anda berkata pada putera Anda, “Ibu bisa mengantarmu Selasa dan sekali-sekali Jumat, tetapi Kamis benar-benar tidak mungkin. Siapa lagi teman satu timmu? Mungkin Ibu bisa mengatur antar-jemput bersama.”

Setelah putera Anda menceritakan siapa saja teman satu timnya, isteri Anda mengatakan, “Akan segera Ibu atur, sayang. Nanti Ibu beritahu siapa yang akan mengantar-jemputmu.” Tanpa perduli samasekali, putera Anda pun lari ke arah TV dengan gembiranya, “Terima kasih Bu. I love you!”.

Pastilah putera Anda terlalu kecil untuk bisa mengemudi, tetapi tentunya ia bisa mengupayakan alternatif lain untuk transportasinya dan dalam prosesnya ia belajar memikul tanggung jawab.

Lihatlah, betapa mudahnya Anda mengambil monyet-monyet orang lain dalam segala bidang kehidupan, padahal mestinya itu tidak perlu. Lalu, dalam prosesnya, Anda telantarkan monyet Anda sendiri dan membuat orang lain tergantung kepada Anda serta mencampakkan peluang mereka untuk belajar memecahkan masalah mereka sendiri.

Datanglah monyet keenam, ketujuh, kedelapan….. dari keponakan, sepupu, mertua, ipar, tetangga, adik, aa’, teteh…..dst

Di mana-mana monyet

Di sekeling Anda monyet, monyet dan monyet! Anda bahkan kini mendapatkan beberapa “monyet-monyet lemparan!” Monyet-monyet ini diantaranya dibuat oleh Tenny, yang gaya kerja serta kepribadiannya kadang menimbulkan masalah bagi orang-orang di bagian lain organisasi Anda. Maka yang lain pun membawakan masalahnya kepada Anda, yang pasti Anda jawab dengan: “Biar saya pelajari; nanti saya kabari.”

Kini Anda dapat melihat jelas, diantara monyet-monyet yang berkecamuk di benak Anda itu, kebanyakan justru monyet milik staf Anda. Artinya, staf Andalah yang seharusnya menangani dan bukan Anda. Meskipun demikian, ada juga monyet kepunyaan Anda sendiri, yaitu, bagian dari uraian tugas Anda. Yang pasti, kebanyakan monyet-monyet di kantor Anda itu bukan seluruhnya monyet Anda.

Tidak lama kemudian beban Andapun sudah penuh (oleh tugas dari bos Anda maupun orang lain), tetapi monyetnya terus saja berdatangan.

Tak ayal lagi, maka Anda pun mulai ‘meminjam’ waktu milik kehidupan pribadi Anda: berolah raga, hobi, kegiatan warga, ibadah, dan tentu saja nantinya dari keluarga Anda.

Ujung-ujungnya Anda sampai pada titik di mana tidak lagi tersedia waktu. Tetapi monyet-monyetnya terus saja berdatangan. Ketika itulah Anda mulai menunda-nunda, sementara staf Anda menunggu. Anda sama-sama tidak melakukan apa-apa terhadap monyet-monyet itu, suatu duplikasi upaya yang sangat mahal.

Penunda-nundaan Anda itu membuat Anda menjadi penghambat bagi staf Anda. Mereka lumpuh karena Anda dan menjadi penghambat bagi orang-orang di departemen lainnya. Ketika orang-orang departemen lain ini komplain, Anda berjanji untuk mempelajari masalahnya dan memberi mereka kabar. Waktu yang Anda habiskan untuk mengurus “ monyet-monyet dari samping ” ini semakin mengurangi waktu untuk menangani monyet-monyet staf Anda sendiri.

Lalu tiba-tiba bos Anda mendapat kabar ada masalah di departemen Anda. Ia menuntut lebih banyak laporan dari Anda. Kini bukan hanya “ monyet-monyet dari samping ” saja yang Anda dapatkan, tapi juga “ monyet-monyet dari atas ” dan ini harus didahulukan dari yang lain. Waktu yang Anda habiskan untuk itu semakin mengurangi waktu untuk yang lainnya. Sungguh sangat kusut. Mengingat-ingat semua kekacauan itu, Anda sadar bahwa Anda sendirilah penyebab hambatan organisasi Anda; sungguh luar biasa masalah yang Anda timbulkan.

Tentu, masalah yang lebih besar adalah ‘hilangnya peluang’; menghabiskan seluruh waktu Anda menangani monyet-monyet orang lain sementarai monyet-monyet Anda sendiri tidak tertangani. Sebagai manager, Anda sekarang bukannya me-manage , Anda malah di-manage .

“ Monyet-monyet dari atas ” adalah waktu yang dipaksakan oleh bos, seperti poin 1 dari manajemen waktu yang Bill Oncken uraikan di awal tulisan ini. “ Monyet-monyet dari samping ” adalah waktu yang dipaksakan sistem seperti poin 2 dan “ Monyet-monyet yang Anda sendiri ” dan “ Monyet-monyet yang dengan suka rela Anda ambil dari keluarga, kerabat, sahabat dan tetangga” adalah waktu yang dipaksakan sendiri seperti nomor 3.


***

Menangani monyet-monyet

Oncken memberi kesimpulan sederhana untuk menangani monyet yakni:
“ Kapan saja saya membantu Anda, maka sesungguhnya masalah Anda kini menjadi masalah saya. Begitu masalah itu menjadi milik saya, maka Anda tidak lagi punya masalah. Saya tidak bisa membantu seseorang yang tidak punya masalah. Anda boleh meminta bantuan lewat skedul waktu yang kita tentukan, dan kita putuskan bersama apa langkah selanjutnya dan siapa yang akan melakukannya ”
Untuk para manajer, inilah enam hal yang harus Anda pertimbangkan, yaitu:

1.Monyet sebaiknya disuapi atau ditembaki. Tak seorangpun senang menerima dampak dari monyet-monyet yang lapar. Monyet mesti disuapi secara berkala. Dalam metafora ini, masalah harus dibicarakan secara berkala antara manajer dan staf yang punya masalah. Kalau monyetnya bisa ditembak (masalah diselesaikan secepat mungkin), tentu saja tidak diperlukan waktu lagi untuk menyuapinya.

2.Setiap monyet seharusnya punya jadwal waktu untuk suapan selanjutnya . Setelah sebuah sesi penyuapan, si manajer seyogyanya memilih waktu yang tepat untuk penyuapan selanjutnya dan punya daftar langkah-langkah yang harus diambil oleh stafnya. “Bisa kita ketemu Selasa depan jam 11.00 untuk menindaklanjuti hal ini dan membahas apa yang harus kita lakukan selanjutnya?

3.Populasi monyet seharusnya dipertahankan di bawah jumlah waktu maksimum yang dipunyai si manajer . Untuk menyuapi seekor monyet, idealnya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit dan si manajer harus mempertahankan jadwal waktu yang memungkinkan untuk dikelolanya dengan baik.

4.Monyet-monyet sebaiknya disuapi pada waktu yang telah ditentukan . Membiarkan staf membawa masalah-masalahnya sesuai dengan waktu mereka sendiri, meningkatakan kemungkinan monyet-monyet tersebut berpindah dari pundak staf ke pundak manajer. Dengan menentukan waktu terinci untuk menyelesaikan masalah, si manajer mendorong stafnya untuk mengambil keputusan terhadap masalah tersebut dan memberinya umpan balik.

5.Skedul penyuapan monyet bisa diskedul ulang, tapi jangan pernah benar-benar ditunda . Baik si manajer maupun staf boleh saja melakukan skedul ulang untuk menyuapi monyet, namun tetap harus diskedulkan ke waktu yang spesifik untuk menghindari hilangnya jejak masalah tersebut.

6.Monyet-monyet sebaiknya disuapi secara tatap muka atau lewat telpon, namun tidak lewat tulisan (surat/sms/email, dll) . Penyuapan yang dilakukan lewat tatap muka atau telpon bermanfaat untuk memastikan si monyet tetap menjadi masalah staf tersebut, kecuali jika manajer memandang perlu untuk mengambil alih masalahnya.
Ringkasnya, keterampilan mendelegasikan membantu manajer menyelesaikan masalah dengan lebih baik dan sekaligus mengembangkan keterampilan pemecahan masalah untuk staf-stafnya.

***
Sekedar pengingat, bila Anda sedang tenggelam dalam lautan pekerjaan yang mengacaukan manajemen waktu Anda, ingatlah tiga huruf ini: RHW.

Pertama, kita mulai dengan huruf H (HAPUSKAN). Kalau bisa di coret dari daftar Anda, hapus pekerjaan itu (tembaki monyet Anda).

Kedua, huruf W (WAKILKAN). Kalau Anda bisa mewakilkan/mendelegasikan pekerjaan Anda, lakukanlah, sepanjang diberikan pada orang yang tepat.

Dan, terakhir, R (REKAYASAKAN). Artinya, jadwalkan sedemikian rupa sehingga pekerjaan Anda menjadi lebih sederhana dan terukur. NLP menyebutnya sebagai chunking down (memecah-mecah menjadi lebih terkelola).

Kalau Anda sudah membaca Bakul Pertama dari serial Beras Kencur ini, tentu masih ingat metafora berikut: Bagaimana cara Anda menyantap seekor gajah? Tentu saja dengan mengunyahnya sepotong demi sepotong, bukan?

Thursday, June 3, 2010

Puisi Untuk Istriku

Cintaku……

Hari ini, genap sudah usiamu ke tiga puluh tiga tahun
Usia yang tidak lagi muda belia
Tapi juga belum pantas untuk dikatakan tua

Bagiku dirimu masih cantik seperti dulu
Saat ku mengenalmu di kota ini
Bahkan lebih menarik
Karena aku tahu.....
Wajahmu lebih bersih
Dan tubuhmu lebih padat
Hmmm.....

Sayangku.....

Aku sadar...
Sudah hampir duabelas tahun
Kita menjalin ikatan ini
Aku banyak mengecewakanmu
Belum bisa membahagiakanmu
Belum bisa menghadirkan segala impianmu
Dan impian-impian kita

Namun bagiku
Jalan masih panjang terbentang di depan
Masih banyak kesempatan yang masih bisa diperjuangkan
Masih ada waktu untuk kita
Meniti dan menata
Mahligai yang kita bangun
Untuk mewujudkan segala impian itu

Istriku .........

Mungkin aku terlalu berharap
Jika aku ingin agar kita selalu bersama
Dalam suka maupun duka
Membesarkan anak-anak kita
Dengan kasih sayang dan cinta
Untuk meraih kebahagiaan
Dunia dan Akhirat kelak

Monday, April 5, 2010

Net Forward Mind Set

Hari saya mengikuti kelas motivasi transformasi. Suatu hal yang biasa yang dilakukan di perusahaan untuk meningkatkan motivasi para karyawan agar performansi terus meningkat.
Secara umum, materi dan style sang motivator tidak terlalu istimewa. Belum terlalu greget menggetarkan mindset dan motivasi para pendengarnya. Namun ada hal (istilah)yang kelihatan baru bagi saya dan perlu saya cuplik hal yang positip agar waktu yang dikorbankan untuk pelatihan ini tidak sia-sia.
Hal yang baru itu adalah istilah Net Forward Mind Set (CMIIW). Suatu istilah yang menggambarkan rasio antara pikiran positip dan negatip dalam mindset kita. Apabila pikiran positip kita 60% dan sisanya 40% pikiran negatip maka NFMSnya 60/40 atau sama dengan 1,5 yang berarti mind set kita bisa menggerakan ke arah positip (baca kemajuan) sebesar 1,5 x lipat. Tapi kalau pikiran positip kita meningkat menjadi 80% makan NFMSnya menjadi 4 x lipat. Namun apabila pikiran negatif mendominasi misalnya 60% maka NFMSnya menjadi 2/3 atau mindset kita menggerakan ke arah negatif atau kemunduran.
Secara kalkulasi mungkin agak susah membuktikan relevansi dengan kehidupan nyata. Namun apapun teorinya, lebih baik mempunyai pikiran positip daripada pikiran negatif bukan?

Bekerja keras menuju Tuhan


Wahai Manusia Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemuiNya. (QS 84 : 6).

Satu ayat yang tak sengaja kubaca pada saat tengah malam mengingatkanku akan jati diriku selama ini. Secara tak sadar ayat ini terus terngiang di pikiranku dan merefleksikan apa yang sebenarnya ingin kucapai dalam hidup ini.

Selama ini, konsep dan realitas kehidupan ternyata hanya didominasi oleh paradigma bagaimana bekerja keras untuk dunia agar mendapatkan dunia dengan segala kenikmatannya sebanyak-banyaknya. Makin bekerja keras untuk mendapatkannya, maka makin terasa panjang jalan yang harus ditempuh.

Ibadah yang sampai saat ini dilakukan, hanyalah serpihan-serpihan kecil yang kadarnya tidak berimbang dengan apa yang dilakukan untuk dunia ini. Kadang timbul tenggelam, tergantung dari situasi yang menyelimuti hati dan pikiran. Saat dunia terasa tidak berpihak kepadaku, maka aku membutuhkan agamaku, tetapi pada saat dunia berpihak kepadaku, maka seringkali kulupa menjaga ibadahku.

Itulah mengapa, mulai saat ini kuprogram ulang seluruh agenda harianku. Harus ada breakthrough, sehingga aku bisa berprestasi juga dalam ibadahku. Jalan yang terbaik menuju Tuhanku, yang harus kulalui lebih keras dariapa yang harus kujalani untuk duniaku.

Tuesday, December 29, 2009

di Balik Pergantian Tahun

Menjelang akhir tahun, pasti ada persiapan yang dilakukan oleh sebagian orang untuk menyambutnya. Apakah itu persiapan pesta tahun baru, event dalam rangka promosi, cuci gudang, diskon akhir tahun dan sebagainya. Yang menariknya, ada bisnis yang selalu muncul di moment pergantian tahun yaitu bisnis terompet.

Bisnis terompet memang hanya muncul dan meningkat volumenya pada saat menjelang pergantian tahun. Terompet dijadikan alat untuk mengekspresikan kegembiraan seseorang dalam menyambut tahun baru. Berbagai bentuk dan ukuran terompet yang biasanya dijajakan di pinggir-pinggir jalan. Berbahan dasar kertas, harga terompet yang dijual terbilang murah dari harga 5 ribu rupiah sampai dengan 50 ribu rupiah. Dengan harga yang seperti ini, tidak heran mulai dari anak-anak kecil sampai orang-orang dewasa tidak segan untuk membeli terompet dan meniupnya untuk memeriahkan acara baik di rumah, jalanan maupun di tempat-tempat wisata dan kafe.

Dengan ramainya orang membeli terompet, pertanyaan kita sebagai pelaku atau pengamat bisnis, berapa sih omzet dan keuntungan dibalik bisnis terompet ini. Berdasarkan informasi yang kami peroleh, rata-rata pedagang terompet di pinggir jalan setiap hari rata-rata bisa menjual 20 terompet dengan omzet sekitar 150 ribu rupiah. Dengan lama penjualan sekitar 10 hari-an maka omzet total sebesar 1,5 juta rupiah dengan keuntungan bersih rata-rata 50% dari omzet atau sebesar 750 ribu rupiah. Memang kalau dilihat sepintas keuntungan yang diperoleh belum menggiurkan namun kalau dilihat dari jumlah ratusan pedagang terompet yang ada di Kota Tasikmalaya akan menjadi potensi yang cukup lumayan baik bagi para pedagang maupun produsen terompet.

Tuesday, December 22, 2009

Mengenal Sedikit Bisnis Property (Bagian 2)

Pada dasarnya bisnis property yang ada sekarang ini terbagi menjadi tiga :
1. Bisnis Jual Beli Rumah/Ruko
2. Bisnis Kavling Siap Bangun
3. Bisnis Developer

Bisnis jual beli rumah/ruko
Bisnis ini bisa dilakukan siapa saja dengan dana yang terbatas sekalipun. Salah satu teknik yang sering digunakan adalah dengan cara menggunakan bantuan jasa appraisal rumah kemudian mengajukan permohonan kredit di bank. Apabila nilai appraisal kita di bawah dari nilai appraisal bank, maka kredit pun diajukan dengan harapan ada uang lebih dari hasil pelunasan rumah yang bisa digunakan untuk modal usaha atau mencicil rumah sekian bulan ke depan. Rumah/ Ruko yang sudah dibeli, bisa dimanfaatkan untuk dikontrakan atau menjadi tempat usaha. Hasil dari uang kontrakan atau usaha tersebut kemudian digunakan untuk mencicil rumah dan seterusnya.

Apabila skema bisnis yang pertama ini dijalankan, maka terbuka lagi peluang untuk mendapatkan rumah baru. Caranya setelah sekian waktu, nilai rumah mulai meningkat maka segera jual rumah tersebut. Dengan adanya keuntungan dari nilai jual ini, maka kita bisa melakukan pembelian rumah/rukodengan nilai dan kuantitas yang lebih meningkat lagi.

Bisnis Kavling Siap Bangun (KSB)
Yang harus dilakukan dalam melakukan Bisnis Kavling Siap Bangun diantaranya meliputi :
- Survey Lokasi
- Pemilihan Lokasi
- Transaksi dgn pemilik hrs dgn notaris
- Pembuatan Site Plan
- Pengkaplingan 200 – 800 m2
- Pemasangan patok
- Transaksi dgn calon pembeli
- Pengurusan Sertifikat

Persyaratan Pemilihan Lokasi untuk KSB diantaranya :
- 3 L = lokasi – lokasi – lokasi
- Lokasi strategis, dekat kota, kampus , pasar, perkantoran dsb
- Ukuran 2000 – 5000 m2
- Bentuk siap kapling utk perumahan
- Harga relatif murah
- Tanah sudah sertifikat & tidak sengketa
- Jalan masuk ke lokasi minimal 5 meter
- Posisi rata atau di atas jalan
- Sekitarnya sudah ada rumah-rumah

Buat brosur utk menjual rumah
- Dijual
- Denah lokasi digambarkan secara jelas
- Denah kavling
- Keterangan
1. Sertifikat
2. Lokasi sangat strategis
3. Dekat kampus
4. Jalan lebar 5 m
5. Air , listrik
6. Ukuran kavlingHarga 750 rb / m2
7. Hubungi nomor telepon
Hindari :
1. Beli rumah / tanah dekat makam
2. Di bawah sutet
3. Di daerah Bencana, banjir, tanah labil
4. Sertifikat gagal di cek di notaris
5. Tanah bersengketa
6. Tanah tusuk sate

Bisnis Developer

Untuk bisnis ini akan kami jelaskan dalam edisi berikutnya. Tunggu saja.

Monday, December 14, 2009

Mengenal Sedikit Bisnis Property (Bagian 1)


Produk satu-satunya di dunia yang jarang turun harganya adalah tanah. Mengapa demikian ? Karena tanah diciptakan oleh Allah relatif tidak bertambah dan berkurang sesuai dengan ukuran luas bumi yang relatif sama dari sejak diciptakan. Dengan pertumbuhan manusia di muka bumi dari waktu ke waktu maka semakin banyak lahan atau tanah yang dibutuhkan untuk rumah, lahan pertanian, industri dan sebagainya. Oleh karena itu, tidaklah heran kenaikan harga tanah ini berlangsung terus bahkan terjadi kenaikan yang fantastis yang bisa ditimbulkan oleh kondisi perubahan lingkungan di sekitarnya misalnya adanya pembangunan komplek perkantoran, pemindahan pasar, pembuatan jalan raya dsb.

Lalu bagaimana agar tanah yang merupakan sumber daya terbatas ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan sumber penghasilan. Saya ceritakan kisah dari seorang penjual kangkung yang bernama Sukinah. Sukinah ini hidup sebatang kara, umur 40 tahunan dan belum pernah menikah. Dalam mempertahankan hidupnya, Sukinah berjualan kangkung dan sayuran lainnya di pasar dan ia tekuni hampir 10 tahun. Namun tahun ini, adalah tahun yang luar biasa bagi Sukinah karena tahun inilah ia bisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Banyak orang termasuk sesama pedagang sayuran begitu takjub dengan Sukinah yang notabene hanyalah seorang pedagang kecil, bisa mengumpulkan uang dari hasil penjualan kangkungnya yang tidak seberapa untuk menunaikan ibadah haji.

Karena penasaran salah seorang pedagang bertanya “Mbak Sukinah, selamat ya bisa menunaikan haji. Semoga menjadi haji Mabrur. Ngomong-ngomong tolong dong ceritakan kiat-kiatnya Mbak Sukinah, bisa mengumpulkan uang dari hasil jual kangkung ini sehingga bisa menunaikan ibadah haji?” Mbak Sukinah pun menjawab ”Mas, saya berniat haji ini sudah lama 10 tahun yang lalu. Kebetulan waktu itu saya mendapat warisan sebidang tanah. Akhirnya saya tanami kangkung di tanah tersebut, dan saya jual kangkungnya ke pasar. Dengan cara itu saya bisa mendapatkan uang sedikit demi sedikit untuk ditabung. Memang tidak besar sih, cuma seribu rupiah sehari. Tapi karena sudah sepuluh tahun, tabunganku akhirnya bisa besar juga, sudah mencapai kira-kira 10 jutaan rupiah. Gitu Mas”. ”....lalu sisanya darimana Mbak, biaya haji kan bisa lebih dari 30 juta ?” tanya si pedagang penasaran. “Ya, saya kan jual kangkung ditambah tanahnya sekalian, gitu aja kok repot!!”.

He..he..he..itulah kisah kecil dari seorang pedagang kecil yang tahu benar memanfaatkan tanah untuk hidup dan merealisasikan cita-citanya. Tanah yang digarap untuk menanam kangkung, 10 tahun yang lalu hanya berharga 2 atau 3 jutaan rupiah. Sepuluh tahun yang lalu Ongkos Naik Haji (ONH) berkisar sekitar 9-10 jutaan. Mbak Sukinah tahu betul, kalaupun tanah itu dijual, ia belum bisa menunaikan ibadah haji. Dan strategi Mbak Sukinah dengan memanfaatkan tanah itu untuk menanam kangkung sangat tepat. Ada dua keuntungan yang diperolehnya, yaitu yang pertama, ia mendapatkan penghasilan dari penjualan kangkung dan yang kedua, ia juga mendapat keuntungan melalu kenaikan harga tanahnya. Kombinasi dari bisnis dan kenaikan harga tanah inilah melahirkan bisnis-bisnis property seperti yang semarak akhir-akhir ini.